Anugerah IKAPI Jabar Menyisakan Janji Pak Wali dan Pak Sekda

PERTAMA kali tercetus ide untuk memberikan Anugerah IKAPI Jabar, bermula dari Pesta Buku Bandung 2009 (PesBuk ’09), saat itu saya dikontrak oleh IKAPI Jabar untuk menangani bidang acarapada PesBuk ’09. Saya berembuk dengan Koordinator Acara,   Dra. Hj. Rema K. Soenendar, membicarakan pentingnya Anugerah IKAPI Jabar, sebagai penghargaan kepada para pejuang di dunia perbukuan, baik itu pengelola perpustakaan, penjual buku, maupun penulisnya. Ibu Rema  sangat merespon dan mendukung diadakannya Anugerah IKAPI Jabar. Terlebih ketika Ketua Panitia PesBuk ’09, H. Hasan Sagita, SH., menyetujuinya.
Dalam konsep saya, Anugerah IKAPI Jabar merupakan sebuah penghargaan dari IKAPI Jabar untuk tokoh atau lembaga yang dinilai memiliki peran yang besar dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Penghargaan tersebut berupa piagam dan uang tunai sebesar satu juta rupiah. Saya menyarankan agar setiap kali IKAPI Jabar mengadakan pameran buku, jangan pernah melewatkan penyerahan anugerah tersebut. Saya sendiri terinspirasi oleh Kang Ajip Rosidi, Ketua IKAPI pertama, yang kini senantiasa konsisten setiap tahun memberikan Hadiah Sastra Rancage kepada para pengarang sastra Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung. Termasuk Hadiah Rancagé kepada tokoh atau lembaga yang dipandang memiliki jasa besar dalam kehidupan sastra Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung.
Selanjutnya Ibu Rema yang memperjuangkannya di tingkat pengurus IKAPI Jabar. Hasilnya, Alhamdulillah, seluruh jajaran pengurus IKAPI Jabar menyetujuinya. Maka dimulailah penyaringan tokoh pertama yang layak mendapatkan Anugerah IKAPI Jabar. Saya tidak menjadi juri tunggal, karena di samping saya ada Drs. Erwan Juhara, Mahpudi, MT., Dadan Sutisna, Miftahul Malik, Agus Bebeng, yang secara langsung atau tidak langsung turut menentukan tokoh atau lembaga yang layak mendapatkan Anugerah IKAPI Jabar.
Teknisnya sederhana, saya mendapat kepercayaan untuk mencari dan mengajukan nama atau lembaga yang pantas mendapat penghargaan, untuk kemudian dirapatkan di tingkat pengurus IKAPI Jabar. Dan setiap kali saya mengajukan kandidat, belum pernah ada yang ditolak. Sebagai catatan, saya menjaring calon-calon penerima Anugerah IKAPI Jabar dengan sangat obyéktif dan siap mempertanggungjawabkannya,
Anugerah IKAPI Jabar pertama kali diberikan kepada Bah Udju pada pembukaan PESTA BUKU BANDUNG 2009. Bah Udju atau Djudju Djunaedi adalah seorang penggiat perpustakaan keliling di daerah Purwakarta. Bermodal sepeda kumbang, Bah Udju “memboncéng” buku-buku untuk disebarkan kepada masyarakat pesisian. Tanpa pamrih, karena buku-buku yang disewakan tersebut, terkadang dipinjamkan secara cuma-cuma. Prinsipnya yang penting bukunya dibaca oleh masyarakat.
Anugerah IKAPI Jabar kedua diberikan kepada KH. Aning Amrulah, pada pembukaan Islamic Book Fair 2009.  KH. Aning, dari mimbar ke mimbar menyerukan betapa pentingnya membaca buku. Setiap kali ceramah, ia selalu berbekal buku, memberikan pengantar dan ulasan tentang buku yang dibawanya. Dari kampung ke kampung, sang da’i pun mengingatkan agar terhindar dari buta mata jiwa. Ada kalanya buta mata jiwa itu berawal dari buta baca. Maka, di mimbar, ia mengajak umat untuk gemar membaca. Itulah langkah nyata dari perjuangan seorang KH. Aning dalam menjalankan misinya: memberantas buta baca.
KH. Aning Amrulloh adalah pemimpin Pondok Pasantren Al-Burdah, yang lokasinya terletak di Jl. Syeikh Quro Kecemek 12, Desa Banyukidul, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang. Selain mengasuh para santri dan ratusan anak yatim, KH. Aning terbilang gigih mengelola perpustakaan Al-Burdah, sekaligus mencoba berbagai cara untuk mengajak masyarakat agar sadar akan pentingnya membaca. Undangan ceramah yang memadati hari-hari sang kiai, menjadi kesempatan berharga untuk syi’ar membaca. “Minat baca masyarakat sebenarnya tinggi, asalkan ada yang mau mengarahkannya. Biasanya masyarakat pedesaan membutuhkan bacaan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga dari hasil membaca bisa langsung diaplikasikan secara nyata…” demikian kata KH. Aning ketika ditemui penulis di Masjid An-Nur, Citra Kebun Mas, Klari, Karawang.
Dengan adanya kiai yang rajin mengajak bersahabat dengan buku, maka perpustakaan-perpustakaan desa pun semakin bergairah. KH. Aning dinobatkan menjadi Ketua Forum Perpustakaan Desa di Karawang. Tentu, kegiatan KH. Aning pun bertambah. Di tengah kepadatan memenuhi undangan ceramah, KH. Aning juga menyempatkan waktunya untuk bertukar pikiran dengan pengelola perpustakaan desa lainnya. Bahkan beberapa perpustakaan desa pun kini seringkali mengadakan kegiatan bedah buku atau diskusi buku.
Banyak cara yang dilakukan KH. Aning dalam menebar gemar membaca, selain dengan syiar dari mimbar. Ia juga dikenal sebagai kiai yang cukup piawai memainkan wayang golek. KH. Aning punngadalang, lengkap dengan propertinya bak rombongan kesenian wayang golek profesional. Tentu, cerita yang disuguhkan pun tidak pernah lepas dari syi’ar Islam dan pesan-pesan perpustakaan. Ada darah seni yang mengalir dalam diri sang kiai, sehingga kiai kelahiran Karawang, 3 Juli 1966 ini, menguasai berbagai kesenian lainnya. Ketika mendapat undangan untuk khutbah nikah, KH. Aning pun bisa sekaligus menjadi penembang sawer pengantin. Dan seperti biasa, KH. Aning pun tak lupa mengingatkan betapa pentingnya membaca buku.
Kendati sang kiai tidak hobi bermain bola, tetapi ia mengatakan bahwa untuk menarik minat masyarakat dalam hal membaca, perlu dengan cara menjemput bola. Dengan begitu, KH. Aning terlebih dulu mempelajari dan mencari buku-buku apa yang layak  diperkenalkan kepada masyarakat. Maksudna agar buku tersebut sesuai dengan kebutuhan baca masyarakat yang akan dikunjunginya. Memang untuk buku-buku yang berisi tentang ajaran Islam, tidak perlu repot-repot memilah. Sebab, diperkenalkan di daerah manapun pasti akan sesuai. Namun untuk buku-buku life skill, KH. Aning harus pandai-pandai memilih yang selaras. Jika KH. Aning mengadakan ceramah di pesisir pantai, tentu buku-buku yang diperkenalkan adalah berkenaan dengandunia nelayan. Begitupun buku-buku tentang pertanian akan diperkenalkan kepada masyarakat yang mayoritas mata pencahariannya bertani.
KH. Aning tidak mengukur keberhasilan syi’ar membaca berdasar jumlah masyarakat yang membaca. “Kalau hanya membaca, tanpa dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari, rasanya membaca pun sia-sia belaka…”  demikian kata KH. Aning. Suami dari Hj. Nurul Aini ini justru lebih tertarik untuk mengamati hasil dari membaca. Contoh kecil, jika ada seorang wanita yang tersiksa menghadapi tingkah suaminya yang pemarah, maka KH. Aning akan memberikan buku yang berisi tata-cara menghadapi suami temperamen. “Bagaimana hasilnya setelah dia membaca buku itu? Apakah rumahtangganya menjadi harmonis? Atau malah lebih berantakan? Itulah salahsatu contoh cara melihat hasil baca…” begitu kata Kiai yang kini telah dikaruniai empat orang putra. KH. Aning pun pernah mengajak masyarakat untuk mempraktikan tata-cara menanam cabe berdasarkan buku yang dibacanya. “Alhamdulillah, dengan cara begitu, masyarakat pedesaan pun semakin giat membaca…” demikian kata kiai yang sehari-harinya dikenal ramah dan murah senyum.
Di perpustakaan Al-Burdah, KH. Aning selalu memperhatikan keberadaan buku-bukunya. Tentu, buku-buku bernuansa Islam sangat mendominasi rak buku Al-Burdah. Dari buku untuk anak-anak sampai orang tua, tersedia di Perpustakaan Al-Burdah. Dengan penuh semangat, KH. Aning bertekad untuk menambah jumlah buku-buku di perpustakaannya, baik dari kuantitas maupun kualitas. Selain itu, kiai jebolan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Djati ini pun akan senantiasa berusaha konsisten dalam menebar gemar membaca dari mimbar atau panggung wayang. Sebagai kiai, tentu akan selalu menjadi panutan dan suri tauladan umat. Jika seorang kiai mengajak umat untuk gemar membaca, lebih menegaskan lagi betapa luasnya lautan ilmu yang terkandung dalam buku. Dan pada akhirnya… KH. Aning Amrullah sangat layak menerima ANUGRAH IKAPI JABAR dalam “Bandung Islamic Book Fair 2009”.
Anugerah IKAPI JABAR ketiga diberikan kepada Mamat B. Sasmita (pengelola Rumah Baca Buku Sunda jeung Sajabana), pada pembukaan PAMERAN BUKU BANDUNG 2009. Ia lebih dikenal dengan nama Ua Sasmita (l. Tasikmalaya, 15-5-1951). Rumah Baca Buku Sunda Jeung Sajabana berdiri  di tengah lingkungan masyarakat,  tepatnya di Komplek Perumahan Margawangi, Jl. Margawangi VII No.5, Bandung.
Ua Sas mengatakan bahwa hanya satu sarat untuk meminjam buku di Rumah Baca, yakni harus dikembalikan. Ua Sas yang dikenal sebagai kuncen (moderator) Kusnet (Komunitas Urang Sunda di Internet), tidak berniat bisnis dalam mengelola rumah baca tersebut. Tujuannya adalah untuk membangkitkan gairah membaca di lingkungan masyarakat. Rumah Baca Ua Sas bersedia meminjaman buku untuk orang yang benar-benar tidak mampu membeli buku, sedangkan minat bacanya tinggi. Lebih menarik lagi karena di Rumah Baca Ua Sas terdapat buku-buku yang usianya tergolong tua, seperti buku-buku wawatjan, pantun, sampai kamus Sunda-Inggris (Jonathan Rigg,  “Dictionary Sunda Language”,  1862). Ua Sas  memiliki lebih dari 600 judul buku berbahasa Sunda, 200 judul buku bahasa Indonesia tentang Sunda, dan 300 judul buku pengetahuan  di bidang sastra, agama, dan humaniora.
Anugerah IKAPI JABAR keempat diberikan kepada 24 Taman Bacaan di Kota Bandung, pada pembukaan PESTA BUKU BANDUNG 2010. Untuk melakukan pendatataan Taman Bacaan, panitia Pesta Buku Bandung 2010 membentuk tim khusus, yang langsung terjun ke lapangan, dan melakukan survey. Tentu saja tidak semua taman bacaan bisa didata, karena waktu yang dimiliki hanya sekitar dua bulan. Baru disadari bahwa mencari taman bacaan di zaman sekarang cukup sulit. Berbeda dengan mencari counter pulsa, yang hampir bisa dilihat setiap beberapa meter.
Sudah dapat dibayangkan bahwa membuka taman bacaan di zaman sekarang, tidak mungkin bisa diandalkan untuk meraup keuntungan besar. Saya tidak mencari taman bacaan melalui google, tetapi survey langsung ke lapangan, melakukan pendataan. Pada mulanya, saya hanya mengusulkan untuk memberikan Anugerah IKAPI Jabar kepada Taman Bacaan tertua yang masih eksis hingga sekarang, yakni Taman Bacaan Aneka, Jl. Taman Siswa  55, Bandung, yang berdiri sejak tahun 1960. Namun, ketika Panitia Pesbuk ’10 melakukan audiensi dengan Pemkot Bandung, Pak Walikota berjanji akan memberikan “uang kadeudeuh” kepada Taman Bacaan yang telah kami survey. Seandainya saya tahu sejak awal, kemungkinan saya akan mengerahkan seluruh kawan-kawan untuk mendata Taman Bacaan sebanyak-banyaknya, bahkan mengumumkannya di media. Namun, jadwal pembukaan Pesbuk ’10 sudah sangat dekat, sehingga saya tidak punya kesempatan lagi untuk melakukan hal itu. Saya hanya menyerahkan Taman Bacaan yang berhasil didata selama kurang-lebih dua minggu, yaitu Taman Bacaan Ultimus, Aneka B, Aneka G, Difaland, Pustaka Media, Aneka (Pusat), Buka Buku, Potenza, Jaya, Tin-tin, Zone of Edutainment, Perpustakaan Embun, Sabang, Trixie, Kineruku, Gubuk Dongeng, Kirana, Amili Mini Pustaka, Mangakisha, Madani, Perpustakaan Prof. Dr. Doddy A. Tisna Amidjaja, Perpustakaan Pusat Studi Sunda, dan Rumah Baca Buku Sunda jeung Sajabana.
Secara pribadi, saya bersyukur dan sangat bergembira akan niat baik Pak Wali. Namun dikarenakan proses pencairannya yang memakan waktu berbulan-bulan, panitia PesBuk 2010 sempat menjadi sasaran pertanyaan dari beberapa pengelola taman bacaan yang menanyakan kapan dana dari Pak Wali dibagikan kepada Taman Bacaan. Bahkan terjadi kesalahpahaman antara beberapa pengelola taman bacaan dengan panitia PesBuk ’10, terutama dengan saya. Seringkali saya mendapat SMS dari taman bacaan, menanyakan: kapan uang dari Pemkot diberikan? Sementara proses pencairan memakan waktu berbulan-bulan. Bahkan ada kesan kalau saya menggelapkan uang dari walikota, terlebih lagi ketika ada yang menulis surat pembaca di media massa.
Alhamdulillah pada akhirnya bantuan dari walikota Bandung turun juga. Semuanya kami berikan kepada taman bacaan, tanpa ada potongan apapun. Semua taman bacaan yang telah kami data, mendapat bantuan Rp 1 juta.
Selanjutnya Anugerah IKAPI Jabar diberikan pada pembukaan Pameran Buku Bandung 2010. Kali ini kami memilih tiga kelurahan yang paling aktif dalam mengelola perpustakaan. Kami tidak mempunyai banyak waktu untuk melakukan survey, tetapi kami meminta rekomendasi dari PUSARDA (Perpustakaan dan Arsip Daerah). Dari informasi yang kami dapatkan, kami akhirnya menjatuhkan pilihan kepada tiga perpustakaan kelurahan terbaik, yaitu Kelurahan ISOLA (Kecamatan Sukasari), Kelurahan PASIR ENDAH (Kecamatan Ujungberung), dan Kelurahan GEMPOLSARI (Kecamatan Bandung Kulon).
Pada PesBuk 2011, saya mengajukan kembali tokoh yang pantas menerima AIJ, yakni Yat R (Yayat Ruhiyat), dan disetujui oleh pengurus IKAPI Jabar. Sebagai dasar pertimbangan saya,  sekitar tahun 1970 sampai dengan akhir 1990-an, dongéng berbahasa Sunda di radio menjadi primadona hiburan masyarakat. Menyimak dongéng Sunda di radio merupakan jadwal rutin yang enggan untuk dilewatkan, seperti halnya masyarakat dewasa ini  menantikan serial sinetron di televisi. Tak pelak lagi, demam dongeng Sunda telah melahirkan nama-nama pendongeng sohor semisal Rachmat Dipradja, Aki Balangantrang, Wa Képoh, Mang Jaya, Mang Barna, Ki Mad Ohle, dan sebagainya. Di balik kesuksesan para juru dongeng itu, terdapat tangan-tangan kreatif para penulis yang kini hampir terlupakan. Tanpa bermaksud mengecilkan peran juru dongeng, para penulis naskah dongeng memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan kualitas dongeng yang digandrungi masyarakat.
Disadari atau tidak disadari, dengan adanya dongeng Sunda di radio, turut mendongkrak minat baca masyarakat. Seperti yang ditulis Atep Kurnia dalam Majalah Seni Budaya (No. 182, Désémber 2006), dongéng-dongéng Sunda di radio sangat erat kaitannya dengan penerbitan buku-buku roman pop Sunda sekitar tahun 1960-1970-an. Masyarakat bukan saja memburu buku-buku yang dibacakan oleh para juru dongeng sohor, melainkan buku-buku lainnya banyak digemari. Atep menuliskan bahwa jumlah buku-buku tersebut mencapai ratusan judul. Contohnya Waliwis Bodas (Tjaringin, 1969) karya S. Sukandar; Si Buraong (Wargina, 1971) karya K. Soekarna; Andjar (Pusaka Sunda, 1967) karya A. Roestandi. Pusaka nu Ménta Wadal (Romanato, 1970) karya A. Tolib; Rusiah Euis Marlinah (Wargina, 1969) karya Tatang KS. Ironisnya yang mengoleksi buku-buku tersebut adalah perpustakaan Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), yang mengoleksi roman Sunda sedikitnya 270-an judul. Buku-buku dan naskah dongeng Sunda, luput dari pengamatan para kritikus sastra Sunda.
Dari sekian banyak dongeng Sunda di radio, cerita yang sangat fenonemal adalah  Sirod Djelema Gaib (Saputra, 1969) karya K. Soekarna, Si Buntung Djago Tutugan (Tjaringin, 1969) karya S. Sukandar atas karyanya,  dan Si Rawing karya Yat. R. Dongéng Sunda Si Rawing yang dipedar oleh Si Raja Dongéng Wa Képoh (Drs. Ahmad Sutisna) tak pelak lagi membuat masyarakat lebih tergila-gila mendengarkan dongeng Sunda. Kegandrungan masyarakat terhadap Si Rawing, menyedot perhatian produser film dari Jakarta, yang kemudian dongeng Si Rawing diangkat ke film layar lebar, diproduksi oleh PT. Kanta Indah Film. Adapun pemeran tokoh Si Rawing adalah aktor laga ternama Barry Prima.
Yat. R, nama yang khas dan tentu disebutkan oleh juru dongéng sebelum juru dongeng memulai ngadongéng. Nama lengkapnya adalah Yayat Ruhiyat, lahir di Bandung, 8 Séptémber 1954.  Yat R, anak sulung dari tujuh bersaudara. Sejak kecil, cita-citanya ingin menjadi ahli tékhnik. Pada mulanya memang tidak ada sedikit pun tersirat niat untuk menjadi penulis cerita. Ketika menyelesaikan SR (Sekolah Rakyat) pun, Yat melanjutkan ke STN (Sekolah Tekhnik Negeri), dan selanjutnya ke STM (Sekolah Tékhnik Menengah) Grafika.
Namun di tengah perjalanan mencapai cita-citanya, tiba-tiba Yat tertarik untuk terjun ke duniabroad casting. Sekitar tahun 1976, Yat memulai kariernya sebagai penyiar radio Paksi, lalu berpindah ke  Radio Polvo, dan Radio Mutiara. Yat mengasuh acara dongeng sebagai juru dongeng. Ceritanya dikarang sendiri, tanpa ditulis terlebih dahulu. Kata orang Sunda, istilahnya ditambul. Yat ngadongéng  sekitar 15 judul, tanpa menggunakan naskah. Di antaranya dongéng  Banjir Getih di Cimandi, Karaman Banjar Patroman, Si Koncléng, dan lain-lain. Kemampuan Yat dalam mengolah cerita bukan tanpa sebab. Sejak kecil, Yat sangat gemar membaca buku cerita, baik komik maupun novel.
Lama kelamaan, Yat menjadi sadar akan pentingnya mendokumentasikan cerita, dengan cara menulis. Selanjutnya, Yat mulai menulis naskah dongéng, dan memutuskan berhenti menjadi juru dongeng. Yat menyadari bahwa dirinya lebih cocok menulis cerita dongeng daripada menjadi juru dongeng. Naskah Yat mulai bergema di radio-radio melalui pendongeng sohor waktu itu, misalnya Aki Balangantrang. Karangan Yat yang didongengkan oleh Aki Balangantrang berjudul Harta Karun di Basisir Kidul, tahun 1979.
Puluhan judul dongéng terlahir dari buah pikiran Yat, baik yang ditulis maupun tidak sempat didokumentasikan. Di antaranya Naratas Jalan Panjang (1980), Macan Kumbang Sakembaran (1981),Rebutan Mustika (1982), Tumbal Asmara (1983), Gandrung Kapahung (1984), Talaga Langkara(1985), Karaman Banjar Patroman (1986), Si Koncléng (1991), Si Bopéng (1992), Nang Ulung (1992),Jago Pangrango (1993), Macan Manglayang (1994), Jago pamungkas (1995), Naga Runting (1996),Jabang Karang (1997), Ujang Bulé (1998), Nyi Béntang (1991), Parawan Rawayan (2001), Sanca Bodas (2002), dan lain-lain.
Sampai hari ini, Yat masih setia menulis naskah dongéng Sunda, di tengah merebaknya tontonan televisi yang kian memukau, di tengah arus globalisasi, di tengah hiruk-pikuk perang komunikasi yang kian meruncing. Semangatnya tak pernah padam untuk tetap menulis dan menulis, mungkin sampai titis tulis.
Ketika Yat R menerima Anugerah IKAPI Jabar, Pak Walikota mengatakan akan menambah hadiah sebesar Rp 4 Juta. Pada pembukaan “Pesta buku Bandung 2011”, dalam pidatonya, Bapak H. Dada Rosada begitu afresiatif dan sangat mendukung perkembangan buku-buku termasuk naskah dongéng berbahasa Sunda. Dan beliau berjanji akan memberikan bantuan, sebagaimana yang diberitakan “PR” keesokan harinya. “Kalau IKAPI memberi Rp 1 Juta, maka saya memberi Rp 4 Juta sebagai penghargaan” (Demikian kata Bapak Walikota, yang saya kutip dari “PR”, 10/02/11, hal. 20).
Adapun penghargaan yang dijanjikan tersebut, sampai hari ini belum terealisasi. Lagi-lagi, saya yangkatempuhan buntut maung, karena Yat R selalu menghubungi saya, menanyakan realisasi tambahan hadiah tersebut. Sudah satu tahun berselang, hadiah yang dijanjikan oleh H. Dada Rosada belum terealisasi.
Anugerah IKAPI Jabar pada Pesbuk ’12 dilaksanakan dengan penjurian yang lebih maksimal, yakni mengundang juri dari luar kepengurusan IKAPI Jabar dan kepanitiaan PesBuk ’12. Tiga dewan juri, Hawe Setiawan, Eriyanti Nurmala Dewi, dan Rema K. Soenendar memutuskan Wahyu Wibisana sebagai tokoh yang layak menerima Anugerah IKAPI Jabar 2012.
Pembukaan PesBuk 2012 diresmikan oleh Sekda Pemkot Bandung, Dr. Edi Siswadi. Beliau pun berjanji akan menambah hadiah AIJ sebanyak duakali lipat dari jumlah yang diberikan IKAPI Jabar, yang berarti jumlahnya Rp 5 Juta. Sebagai panitia pelaksana di bidang acara, saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Pak Sekda, dan semoga mendapat balasan kebaikan yang berlipat pula dari Allah SWT, amiien.***

ANUGERAH IKAPI JABAR PESTA BUKU BANDUNG 2009:
Bah Udju

ANUGERAH IKAPI JABAR ISLAMIC BOOK FAIR 2009:
KH. Aning Amrulah

ANUGERAH IKAPI JABAR PAMERAN BUKU BANDUNG 2009:
Mamat B. Sasmita

ANUGERAH IKAPI JABAR PESTA BUKU BANDUNG 2010:
Taman Bacaan Ultimus, Aneka B, Aneka G, Difaland, Pustaka Media, Aneka (Pusat), Buka Buku, Potenza, Jaya, Tin-tin, Zone of Edutainment, Perpustakaan Embun, Sabang, Trixie, Kineruku, Gubuk Dongeng, Kirana, Amili Mini Pustaka, Mangakisha, Madani, Perpustakaan Prof. Dr. Doddy A. Tisna Amidjaja, Perpustakaan Pusat Studi Sunda, dan Rumah Baca Buku Sunda jeung Sajabana.

ANUGERAH IKAPI JABAR PAMERAN BUKU BANDUNG 2010:
Perpustakaan Kelurahan ISOLA (Kecamatan Sukasari), Kelurahan PASIR ENDAH (Kecamatan Ujungberung), dan Kelurahan GEMPOLSARI (Kecamatan Bandung Kulon).

ANUGERAH IKAPI JABAR PESTA BUKU BANDUNG 2011:
YAT. R (Yayat Ruhiyat)

ANUGERAH IKAPI JABAR PESTA BUKU BANDUNG 2012:
WAHYU WIBISANA

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*