Buku Adalah Sumber Daya

Oleh SAFRINA NOORMAN

A book is a garden, an orchard, a storehouse, a party,
a company by the way, a counselor, a multitude of counselors.
~ Henry Ward Beecher ~

Ketika halaman buku kita buka, dunia meluas dan pengetahuan bertambah. Buku membawa banyak manfaat: menambah pengetahuan, memperluas pengalaman, menawarkan imajinasi, memperkenalkan kosa kata, mempelajari perilaku, membayangkan  tempat, memancing gagasan. Dengan kata lain, buku membuka peluang untuk terjadinya pembelajaran, peluasan wawasan, bahkan mungkin penajaman perasaan. Oleh karena itu, wajarlah jika kecintaan terhadap buku yang diwujudkan dalam kegiatan membaca ditanamkan dan dipupuk sedari kecil.

Sayangnya, pada masa kini bertambah banyak orang yang mengurangi kegiatan membaca buku (printed materials). Banyak orang yang memilih untuk dihibur oleh dan mendapat informasi dari televisi yang kita hadirkan di ruang-ruang keluarga dan kita jadikan sebagai fokus utama kegiatan berkeluarga sehingga perhatian atau kebutuhan akan buku atau membaca terus menurun. Padahal, dibandingkan dengan membaca buku, menonton televisi atau film memiliki potensi untuk membatasi daya imajinasi karena televisi menayangkan imajinasi dalam bentuk gerak visual sehingga para “pembaca”nya atau penonton tidak perlu lagi berimajinasi. “Pembaca” televisi menjadi pembaca yang tidak perlu ataupun berkesempatan untuk berimajinasi karena telah disuguhi dan disuapi imajinasi secara gambling.  Oleh karena itu, meningkatnya jumlah keluarga yang mengurangi kegiatan membacanya –bahkan menjadikan televisi pengasuh bagi anak- merupakan proses evolusi  pemiskinan imajinasi. Imajinasi, seperti sudah banyak terbukti, merupakan awal dari beragam inovasi dan kemajuan pengetahuan, teknologi juga penajaman rasa kemanusiaan.

Di sinilah letak kekuatan buku. Melalui kegiatan membaca, kita berkesempatan menciptakan imajinasi tak terbatas. Imajinasi yang tak dibatasi oleh pemaknaan orang lain dan kita memiliki otonomi atau kuasa untuk memaknai sendiri dan membangun imajinasi dari apa yang kita baca. Melalui  imajinasi ini, pembaca buku memupuk mimpi dan cita-cita, membuka dan meluaskan wawasan, mengenal dan memperkaya khazanah ilmu pengetahuan.

Oleh karena itu, mencintai buku dengan membuka dan membaca setiap lembar halamannya merupakan kegiatan yang seharusnya dibina sejak dini. Apalagi kita mengenal pepatah yang mengatakan bahwa belajar itu dimulai sejak dalam buaian, bahkan sejak masih dalam kandungan ibu. Mengajak anak membaca seharusnya merupakan kegiatan wajib, dan buku merupakan sarana pertama dan utama yang harus diperkenalkan pada anak. Selain kekuatan yang telah disebutkan di atas, kegiatan membaca buku juga memupuk keterikatan antara anak dan orangtua. Membacakan buku sebelum tidur dapat menjadi kegiatan menyenangkan yang akan mengingatkan akan kehangatan dan kasih sayang orangtua pada anak. Kegiatan membaca sebelum tidur juga merupakan pembelajaran perilaku berbagi pengalaman dan bertukar pendapat dalam suasana yang nyaman, dan –yang terpenting- menanamkan rasa suka dan ingin tahu pada buku yang dapat terus terbawa hingga dewasa. Dengan demikian, membaca buku akan menjadi bagian indah dari masa kecil anak.

Di samping itu semua, membaca buku juga merupakan kegiatan yang dapat meningkatkan dan menajamkan ketrampilan berpikir (reasoning skills) . Aneka informasi yang didapatkan dari membaca buku merupakan bekal untuk berpikir kritis dan bertindak dengan hati-hati dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. Ketrampilan berpikir kritis ini teramat perlu ditingkatkan di jaman banjir informasi ini. Masyarakat yang kritis akan lebih berjaya di era globalisasi ini. Menjadi kritis terhadap permasalahan keseharian, nasional ataupun global membutuhkan latihan dan membaca buku merupakan sarana untuk menajamkan ketrampilan berpikir. Oleh karena itu, kegiatan membaca buku seharusnyalah ditanamkan dan dipupuk agar menjadi kebiasaan yang melekat pada perilaku kesehariaan kita.

Pajankalah anak pada aneka ragam buku dan bacaan lain sepanjang masa kanak-kanaknya. Kenali buku yang berkualitas dan kenalkan pada anak segala macam buku dan bacaan: buku bergambar, cerita, puisi, cerita petualangan, misteri, fantasi, buku perjalanan, buku-buku referensi, peribahasa, buku pengetahuan. Dampingi anak ketika mencari, membaca bacaan yang mereka pilih. Jelajah pengalaman dan petualangan membaca dengan tulus, antusias, semangat sehingga membaca menjadi kegiatan menyenangkan dan berharga bagi anak, dan buku beserta segenap pengalaman dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya menjadi harta karun sepanjang hidupnya.

Safrina Noorman, Pecinta kegiatan membaca, Ibu empat anak, Doktor dalam bidang Ilmu Susastra, dan kini menjadi Pengajar di Prodi Bahasa dan Sastra Inggris, UPI Bandung

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*