Dakwah Bil-Qalam Ustad Aam (Peraih Anugerah IKAPI Jabar “Bandung Islamic Book Fair 2012″)

Oleh DHIPA GALUH PURBA

 

SUDAH gejala umum jika banyak orang yang begitu ragu membelanjakan uang sepuluh ribu untuk sebuah buku. Bandingkan saja dengan puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan lebih dari itu, yang dihambur-hamburkan untuk sesuatu yang mudah berlalu. Sedangkan hampir setiap saat kita berbicara mutu. Kalau berbicara mutu, tentu sangat berkaitan dengan ilmu. Dan tentu dunia ilmu adalah juga dunia buku.

Terlebih jika buku itu ditulis oleh seorang penggali ilmu, pengkaji ilmu, atau penyebar ilmu. Rasanya uang sepuluhribu akan berlipat ganda lebih bermutu jika ditukar dengan buku tersebut. Hal itu rupanya yang menjadi salahsatu pendorong para da’i untuk menulis, selain berdakwah dari mimbar ke mimbar. Baik itu tulisannya dimuat di media massa, diterbitkan dalam bentuk buku, atau pun menjadi e-book. Itu hanyalah bentuk. Sebab, esensi dari sebuah buku dan  tulisan adalah konten.

Ustad Aam salahsatunya. Nama Aam Amiruddin bukan saja dikenal akrab sebagai seorang penceramah di acara televisi, melainkan bersahabat pula dengan para kutu buku dan singa baca. Ustad Aam melakukan syiar Islam dengan dakwah bil-lisan dan dakwah bil-qalam.

Membaca buku karya Ustad Aam, terasa begitu dekat dengan orangnya. Dari setiap untaian kata yang dibaca, terbayang pula Ustad Aam yang berbicara begitu tenang, santai, dan membawa suasana kedamaian. Tidak usah diragukan lagi, ketika Ustad Aam menulis, maka  dakwahnya tersebar lebih luas lagi, bahkan bisa sampai ke peloksok yang belum terjangkau televisi.

Terlebih lagi ketika “dakwah” dilembagakan menjadi sebuah Fakultas di Perguruan Tinggi, maka tentunya berbicara “dakwah”  adalah berbicara ilmu. Sedangkan dunia ilmu bukanlah hanya sebatas dunia “bicara”, melainkan dunia “membaca” dan dunia “menulis”. Dan mengapa harus ilmu? Sebab, pada sisi tertentu, kualitas manusia bisa ditentukan oleh ilmu yang dimilikinya.

Dakwah bil Qalam Ustad Aam
Dakwah bil Qalam Ustad Aam

Ilmu bisa menjadikan seseorang lebih mulia dari yang lainnya. Dengan ilmu pula salahsatunya, yang dapat menjadikan seseorang memiliki keimanan, ketaqwaan, dan pandai bersyukur. Kedudukan ilmu memang sangat tinggi. Sedangkan ilmu bukan merupakan hasil manusia secara otonom, karena dalam proses pencariannya ada keterlibatan Tuhan. Akal adalah menjadi semacam jendela atau pintu untuk masuknya ilmu, seperti halnya juga hati untuk menerima pancaran ilahi. Membaca adalah salah satu upaya untuk membuka jendela atau pintu manusia dalam proses transper ilmu. Apalagi membaca tulisan seorang da’i, semisal Ustad Aam.

Memang Ustad Aam bukan satu-satunya da’i yang berdakwah bil-qalam. Namun, sayangnya ada yang belakangan  ini baru saya ketahui bahwa penulisnya ternyata dikerjakan oleh tim penulis, yang kemudian diberi label sang da’i, agar bukunya diminati, dibeli, dan dibaca oleh kalangan luas. Benar bahwa sang da’i yang memiliki ide, gagasan, pikiran, dan kajiannya. Tetapi, tetap saja, belum bisa disebut penulis kalau tulisannya tersebut masih dikerjakan oleh orang lain.

Menulis membutuhkan ketekunan dan ketrampilan khusus, yang mau tidak mau harus bisa melewati tantangan dalam melalui tingkatan demi tingkatan, yang lebih populer disebut proses kreatif. Cukup menantang, tetapi mengasyikan bagi yang jiwanya terpanggil untuk menjadi seorang penulis.

Mari kita tengok perjalanan proses kreatif Ustad Aam. Mungkin ada yang masih beranggapan jika beliau “ujug-ujug” diundang oleh televisi swasta nasional, untuk memberikan penyegaran rohani kepada masyarakat. Kalau ada yang masih berpikiran seperti itu, dijamin salah. Sebab, kepercayaan masyarakat terhadap Ustad Aam bermula dari ketekunan dan konsistensinya dalam mengamalkan ilmu, dari mimbar ke mimbar, dan tentu saja dari buah tulisan yang dimuat di berbagai media massa, dan yang dicetak menjadi sebuah buku.

Ada citarasa tersendiri dari setiap tulisan seorang penulis. Bahkan seorang kutu buku sanggup membedakan nama-nama penulis dari buku yang ia baca, tanpa harus memperhatikan cover bukunya. Tentu saja hanya untuk nama penulis produktif, yang telah teruji konsistensi dan dedikasinya.

Nama Ustad Aam, selain dikenal sebagai da’i, predikat penulis produktif pun melekat dalam dirinya. Buku-buku hasil karyanya telah menyebar, bersaing di pasar buku, dan hasilnya terbilang memuaskan. Selain itu, ustad kelahiran Bandung, 14 Agustus 1965 ini pun kerap menghiasai media massa. Di dunia maya pun, ada banyak blog dan portal yang memuat tulisan Ustad Aam, sehingga untuk mencari tulisan Ustad Aam tidak sulit. Banyak yang sudah berbentuk buku cetak, serta diminati masyarakat yang haus akan ilmu keislaman.

Ada yang menarik dari tema-tema buku yang ditulisnya. Tulisannya dinamis. Persoalan yang diangkat adalah masalah yang populer dan selaras dengan perkembangan zaman. Misalnya, ketika masih banyak orangtua yang menganggap tabu untuk membahas masalah sex dengan anaknya, Ustad Aam malah menulis buku berjudul Anak anda bertanya seks? (ditulis bersama Dra. Alfa Handayani).

Agar bukunya dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, Ustad Aam pun tidak ragu untuk berkolaburasi dengan penulis yang dianggap lebih mengerti pada bidang yang akan dibahasnya. Misalnya untuk menulis Seks Tak Sekadar Birahi, Ustad Aam berkolaburasi dengan dr. Hanny Ronosulistyo, yang lebih mengerti dalam bidang kedokteran. Oleh karena itu, bukunya bisa dipertanggungjawabkan secara akademis. Sebagai Dokter lulusan S-3 Pascasarjana UNPAD, rupanya Ustad Aam mengerti betul akan pentingnya pertanggungjawaban akademis dari sebuah karya.

Buku-buku karya Ustad Aam yang telah beredar di masyarakat, diantaranya Tafsir Kontemporer Juz ‘Amma, Bedah Masalah Kontemporer,  Dzikir Orang-Orang Sukses, Kunci Sukses Meraih Cinta Ilahi,  Sudah Benarkah Shalatku?  Melangkah ke Surga dengan Shalat Sunat,  Doa Orang-orang Sukses, dan lain-lain. Oleh karena itulah, Ustad Aam sangat layak ketika terpilih untuk mendapatkan Anugerah IKAPI Jabar pada Bandung Islamic Book Fair 2012, sebagaimana yang telah diputuskan oleh tiga dewan juri, yang terdiri dari Budhiana Kartawidjaya, Dra. Hj. Rema K. Soenendar, dan Mohammad Shoelhi. Selamat untuk Ustad Aam.***

 

Dhipa Galuh Purba, Penulis Lepas, tinggal di Bandung.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*