Guru Sebagai Modul, Modal, dan Model

Oleh ERWAN JUHARA

“Minta daun diberi daun

dalam daun ada rangkanya

Minta pantun diberi pantun

dalam pantun ada sastranya”

Dr. Donna Norton, seorang pakar bidang kajian membaca kreatif dari College of Education of Texas A & M University, dalam karyanya yang termashur tentang sastra anak-anak, Through The Eyes of a Child (1983), mengemukakan proses eksperimennya selama 15 tahun tentang bagaimana caranya mengakrabkan sastra di tengah para siswa sekolah dasar dan menengah. “Sastra”, katanya;”hanya akan tetap menjadi sastra apabila disajikan secara  utuh sebagai karya sastra, tanpa beban kognitif yang mengada-ada harus dicapai oleh siswa. Adapun tentang guru sastra tak lebih dari seorang penggembala yang mengantarkan ternaknya ke padang rumput yang subur dan hijau,  dan biarkan setiap ternak itu untuk memilih jenis rumput yang diminatinya.”

Penggembala? Ya, guru adalah “penggembala” bagi para muridnya; guru adalah “penggembala” ilmu bagi para muridnya. Lalu bagaimana menjadi penggembala ilmu sastra? Penggembala ilmu sastra harus punya ilmu sebagaimana “pengembala ternak” pada umumnya.  Mereka harus punya ‘ghirah’ sebagai penggembala. Kalau seorang penggembala tahu kemana tujuannya menggembalakan ternaknya, seorang guru sastra pun tahu kemana ia harus jadi “gembala sastra” bagi murid-muridnya.

Maka dalam hal itu, seorang guru harus jadi  Modul PBM Sastra bagi murid-muridnya, sebuah petunjuk aturan bermain dan belajar sastra. Guru layaknya sebentuk modul yang mampu menggembala ke arah tujuan sastra, yakni memberi pengetahuan dan pengalaman bersastra kepada para siswanya. Di dalam upaya menjadi sebuah modul, guru layak semasa di bangku kuliah membekali diri dengan berbagai teori (terutama tujuan pendidikan dan kebudayaan umum, sastra, kurikulum) dan pengalaman bersastra (kegiatan dan bentuk aplikasi sastra) selama di kampus dan di masyarakat. Tujuan sastra ini kelak menjadikan guru sebagai modul pengajaran sastra yang dengan keberadaan teori dan pengalaman sastranya akan membawa ke hal yang paling pokok dari dunia sastra yakni manusia dan kehidupannya, manusia dengan berbagai representasi penghayatan kemanusiaaannya dalam kehidupan bersama umat manusia di dunia nyata. Hal inilah yang akan menyatakan eksistensi sastra dan manusia serta “ada sebagai manusia ” yang dalam konsep M. Heidegger sebagai “Mensch-Sein ist Mit-Sein”.

Selanjutnya juga seorang guru harus jadi modal dalam pengajaran sastra dalam kaitan yang menurut guru saya, Prof. Dr. H. Yus Rusyana sebagai  Landasan Pengajaran Sastra. Saat seorang guru menjadi modul  bagi murid-muridnya dalam PBM Sastra dengan segala kelengkapan dan keberadaannya, ia pun harus didukung landasan pengajaran sastra, sebagai MODAL pelaksanaan PBM yang berkualitas, yakni pengetahuan, pengalaman, ekpresi dan kreativitas sastra. Pengetahuan sastra dijadikan modal guru untuk menjelaskan berbagai teori dan persoalan filsafat sastra bagi kehidupan manusia; pengalaman sastra dijadikan modal guru untuk memberi wawasan pembanding, contoh, maupun gerakan-gerakan yang telah dan akan mendukung kepada proses PBM sastra yang akan membentuk atmosfer sastra  dalam kehidupan nyata; ekspresi dan kreativitas dijadikan modal guru untuk jadi model positif, pattern dan trendsetters PBM sastra, hingga tindakan penggairahan sastra dalam kehidupan nyata.  Landasan pengajaran sastra ini tidak serta merta didapat seorang guru, tetapi melalui proses panjang selama kuliah dan pengalaman berjalan PBM di sekolah/kampusnya sehingga suatu saat melahirkan inovasi-inovasi PBM sastra yang berakar dari kualitas modul dan modal seorang guru dalam PBM sastra, terutama dalam rangka penjabaran manusia dalam dunianya yang dihayati dalam dunia dimensi estetika sastra.

Sementara itu, sekali lagi guru harus jadi model bagi PBM sastra bagi murid-muridnya adalah dalam rangka penguatan pattern dan trendsetters eksistensi sastra dalam kehidupan akademis yang selanjutnya dimanfaatkan dampak positifnya dalam penciptaan atmosfer sastra di masyarakat manusia yang lebih luas; sehingga wajar kalau seorang guru tidak menjadi penganut takhayul sastra yang menjadi model  PBM sastra tanpa memiliki landasan pengajaran pengajaran sastra yang dirintisnya dalam perkuliahan maupun di masyarakat sebenarnya. Sebagai misal, banyak terjadi guru tidak bisa menjadi model PBM sastra yang baik saat ia membina budaya baca sastra, sementara ia pun tak suka baca buku sastra;  atau saat ia mengajar mengarang sastra ia pun tak punya karya dan pengalaman mengarang karya sastra, atau menyuruh muridnya menyaksikan pertunjukan karya sastra sementara ia pun tak tertarik menyaksikan acara sastra. Ya, memang banyak guru sastra yang suka bertahkhayul sastra saat ini.

Jika posisi Modul, Modal, dan Model PBM Literary Parks sudah terpenuhi. Maka persoalan besar lainnya yang perlu dibenahi bukan pada tingkat SDM Guru, tetapi di tingkat elemen ekstern seperti Pemerintah, Kurikulum, Lembaga Pendidikan/Sekolah.

Pada elemen pemerintah bisa berarti upaya-upaya yang harus serius dilakukan pemerintah dalam perhatiannya pada persoalan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah maupun dampak-dampak lanjutannya bagi masyarakat. Hal itu misalnya pada wujud pemberian subsidi kegiatan berbahasa dan bersastra pada tingkat pelajar yang lebih merangsang animo berbahasa dan bersastra Indonesia;  sebut saja dengan memperbanyak distribusi buku-buku sastra ke seluruh pelosok sekolah, memperbanyak bentuk lomba kreativitas sastra untuk pelajar, memperbanyak teknologi media pendukung pengajaran bahasa dan sastra Indonesia ke sekolah-sekolah, dan mempermudah pemerolehan juga penyelenggaraan acara maupun informasi persoalan sastra yang telah, sedang, akan berlangsung.

Pada elemen lembaga pendidikan/sekolah adalah memberi pemahaman bentuk pengajaran integralistik-komprehensif kepada seluruh guru di sekolah bahwa pengajaran bahasa dan sastra Indonesia adalah tanggung jawab bersama karena pada dasarnya sudah ada dan potensinya bisa dibina oleh setiap pihak, terutama para guru. Sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa guru di luar bahasa dan sastra Indonesia pun paham dengan pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Artinya, kejadian selama ini yang sering terjadi, dimana guru bahasa dan sastra Indonenesia telah berpayah-payah membina dunia bahasa dan sastra Indonesia kepada para siswanya di kelas/sekolah, tetapi dihancurkan lagi oleh guru lain yang tidak peduli dengan pelajaran lain di luar bidang studinya, misalnya dalam pemanfaatan kaidah berbahasa dan pergerakan sosialisasi dunia sastra semacam gerakan membaca buku, khususnya buku sastra jarang diberikan teladan yang baik oleh para guru di luar bidang bahasa dan sastra Indonesia.

Selain itu, sekolah pun harus lebih perhatian dengan mendukung segala macam kegiatan berbahasa dan bersastra yang diupayakan guru, sekolah, dinas pendidikan, atau pemerintah untuk selalu mendukung dalam bentuk yang paling sederhana sekali pun; lalu sekolah pun berkewajiban menyediakan sarana dan prasarana serta teknologi/media pendidikan yang mendukung upaya peningktan atmosfer kegiatan berbahasa dan bersastra siswa semaksimal mungkin di sekolahnya bersama guru bahasa dan sastra Indonesia, misalnya dalam penyediaan buku-buku, media cetak dan elektronik untuk pengajaran, ruang/kelas untuk pembinaan bakat dan apresiasi berbahasa dan bersastra Indonesia, hingga kemudahan maupun partisipasi dalam berbagai bentuk kegiatan berbahasa dan dan bersastra secara intern maupun ekstern.

Pada elemen kurikulum, ini adalah persoalan serius yang juga harus diperhatikan pemerintah dan departemen pendidikan nasional, karena mereka harus memberi penekanan isi kurikulum pengajaran bahasa dan sastra Indonesia ke ranah kesenian daripada yang selama ini ke ranah kognitif-teknokrat. Buktinya bisa dirasakan hingga saat ini pelajaran bahasa dan sastra Indonesia para siswa kita tidak pernah bisa menikmati dan merasakan kegiatan berbahasa dan bersastra Indonesia karena mereka lebih sering dipaksa menghapal dan memandang dari kejauhan keindahan dunia bahasa dan sastra Indonesia. Selain itu, porsi isi kurikulum tidaklah harus berlebihan sehingga membuat siswa dan guru  harus bekerja keras mengejar jam tayang pelajaran untuk persiapan tes caturwulan atau ulangan umum maupun ebtanas, tetapi cukuplah berisi dasar-dasar penguasaan dan pemanfaatan keterampilan berbahasa dan bersastra Indonesia pada pokoknya, yakni membaca, menyimak, berbicara, dan menulis yang di tiap kelasnya bertahap gradasi kesulitan maupun keindahannya.

Hal yang paling pokok dan fatal selama ini adalah menyamakan tes akhir pelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang  kurikulumnya 1994 masih sama dengan tes kurikulum 1975 atau 1984, yakni dengan cara multiple choice/pilihan ganda 40 soal, 5 buah esai sederhana, dan 1 jenis karangan rata-rata dibatasi 3-5 paragraf(yang sebenarnya tidak perlu dibatasi paragrafnya). Padahal, dengan kurikulum 1994 sudah selayaknya  tes akhir pelajaran bahasa dan sastra Indonesia harus melalui pengukuran daya terima dan daya apresiasi pada segi keterampilan berbahasa dan bersastra  berupa membaca, menyimak, berbicara, dan menulis itu, menjadi dua kali tes. Tes pertama berkenaan dengan penilaian daya menyimak dan berbicara. Bentuk tesnya bisa dengan wawancara atau tes penampilan atas beberapa materi kegiatan berbahasa dan bersastra Indonesia. Tes kedua berkenaan dengan penilaian daya membaca dan menulis. Bentuk tesnya bisa tertulis atau praktik materi kegiatan berbahasa dan bersastra Indonesia. Tentu saja disesuaikan ranah kesulitan atau daya apresiasinya sesuai tingkat/kelas para siswa. Sedangkan jumlah soal atau tesnya cukup 5-20 soal, tetapi mampu merangsang dan membangkitkan kemampuan dan daya apresiasi para siswa tanpa harus terbebani karena ia pun berhak menikmati  segala tes yang diberikan kepadanya.

Pada bagian ini tugas guru menjadi lebih berat, tetapi karena itulah seorang guru harus menjadi modul, modal, dan model sebelum ia berdiri di hadapan para siswanya. Guru bahasa dan sastra Indonesia haruslah istimewa, minimal bagi para siswa dan dirinya sendiri. Memang akhirnya tes ini menjadi istimewa, tetapi memang harus istimewa karena pelajaran bahasa dan sastra Indonesia adalah pelajaran istimewa karena kemampuan bahasa dan sastra seseorang mencerminkan sebuah bangsa. Jadi, pemerintah, depdiknas, khususnya bidang penyusun kurikulum harus segera mengubah bentuk tes pelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang selama ini salah kaprah dengan bentuk tes akhir yang saya tawarkan semacam dalam tulisan ini

Sebab, benarlah kata Putu Wijaya, kalau sudah demikian tidak usah heran jika kita butuh pemberdayaan sastra, karena seluruh elemen kehidupan sastra kita sudah loyo, layu, dan letoy. Kita butuh pemberdayaan sastra bukan hanya pada sastrawannya, tetapi juga lahan hidupnya, masyarakat sastranya, sarana dan pasarnya, metabolisme dan habitatnya, apalagi harapan terbesarnya pada pendidikan sastra di sekolah-sekolah yang akan melahirkan generasi baru kehidupan sastra di dunia ini. Di sini peran guru sebagai Modul, Modal, Model PBM sastra akan menjadi penting posisinya sebagai salah satu pemberdayaan dunia sastra dalam kehidupan manusia yang hasilnya tetap baik buruknya akan mencolok di mata kita semua.

Jika guru sudah mampu jadi modul, modal, dan model PBM bahasa dan sastra yang tahu dan paham bahwa tujuan pengajaran sastra adalah agar siswa mendapat pengetahuan dan pengalaman sastra dengan landasan sastra-nya bagi seorang guru, yakni pengetahuan sastra, pengalaman sastra, ekpresi dan kreativitas guru itu sendiri yang amat bermanfaat baginya saat berada di medan pendidikan; ditambah ucapan Dr. Donna Norton yang menjadi dasar keyakinan kita,  maka guru selayaknya tidaklah kesulitan saat mengajarkan sastra dari mulai masalah teoritis, sejarah, prosa, puisi, hingga praktik-praktik penulisan sastra di sekolah sebagai sebuah kebun/taman bermain sastra dengan konsep Lateral milik Dr. Edward de Bono, misalnya selain mengajar sejarah, teori, prosa, puisi, dan praktik penulisan sastra di kelas, perpustakaan, juga di alam bebas, maka media pengajaran selain buku-buku sastra dan majalah sastra serta mengajar dengan kaset-kaset puisi dari para penyair seperti Rendra, musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono dari  para mahasiswa UI dan Sanggar Matahari, puisi para peserta lomba baca puisi akan memberi kesan positif dan membuat siswa bergairah belajar sastra(puisi) tanpa harus dibebani menjadi sastrawan atau meniru, tetapi yang dituju saat itu adalah membuat mereka seperti bermain di kebun/taman sehingga timbul sikap posisif dan “kerasan” menikmati suasana dan makna yang bisa diresapi sehabis jam pelajaran usai. Ketika belajar teori dan praktik sastra, misalnya tentang prosa yang memiliki unsur-unsur intrinsik tema, alur, latar, karakter, suasana, hingga ending cerita, selain lewat pembahasan buku maupun cerpen di majalah atau koran, berikan variasi dengan memberi tontonan film pendidikan seperti “Dead Poet Society”, “Dangerous Minds”, “Langitku Rumahku”, “Children 0f Heaven” hingga animasi semacam  “Pinokio”; atau pun selama satu jam beri kesempatan mengapresiasi film India di televisi yang diselingi iklan; setiap iklan muncul mereka akan mulai paham sedikit demi sedikit secara langsung semua unsur intrinsik itu. Hingga sebuah film selesai mereka sudah bisa menjawab dan menceritakan semua unsur intrinsik sebuah cerita. Berbekal rasa senang itulah mereka tak merasa terbebani jika diberi tugas dan harus berkreasi karena sudah paham unsur-unsur intrinsik sebuah karya sastra sekaligus imajinasinya terisi oleh model sebuah cerita, baik itu dari buku, koran, majalah, film, bahkan dongeng dari guru sekali pun.

Jadi, guru sebagai Modul, Modal, Model PBM Sastra memang haruslah jadi “gembala” yang mampu membawa “ternaknya” ke arah`rumput yang disenanginya dengan rasa cinta dan ibadah karena tanpa hal itu, sehebat apa pun metode belajar yang dipakai tidaklah ada artinya; dan tentu saja jangan tergesa-gesa ingin menuai hasil “panen raya” karena buah yang manis perlu waktu yang pas, sebab “sastra” bukan buah “karbitan”!

“dalam daun ada rangkanya

diduga itulah kuat sehatnya

dalam pantun ada sastranya

semoga ada terasa manfaatnya”***

2 Comments

  1. Sebelumya trims atas artekelnya, saya harap banyak teman2 yg mau berikan solusi, bahwa bidang pendidikan kita sekarang ini sudah jauh tertingal dan oleh sebab itu saya sangat setuju dgn tulisan yang anda muat saat ini,karena pendidikan merupakan landasan dasar kemajuan bangsa kita tapi kenyataanya masih ada saat ini yang kita dustakan bidang pend tsb contohnya banyak kalangan tidak mau tau bagaimana sih seharusnya pendidikan bangsa yg kita cintai ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*