Mari Menjadi Orang Aneh

Oleh HERMAWAN AKSAN

DI Indonesia, pembaca buku tergolong manusia aneh. Lebih-lebih di zaman Blackberry seperti saat ini. Cobalah hitung, berapa banyak orang yang membaca buku di sekeliling Anda—di ruang tunggu dokter, bandar udara, stasiun, dan terminal, di kafe, di perjalanan dengan bus, kereta api, atau pesawat, bahkan di ruang kelas sekalipun. Bandingkan jumlahnya dengan mereka yang asyik dengan telepon seluler di genggaman: menelepon, mengirim pesan singkat, memainkan game, membuka Facebook atau Tweeter, dan sebagainya.

Memang sudah menjadi penilaian lama bahwa minat baca bangsa kita parah. Bangsa kita bukan bangsa yang memiliki budaya membaca. Bangsa kita mengalami lompatan budaya dari tradisi lisan ke tradisi menonton, tanpa melalui lebih dulu tradisi membaca. Membaca dianggap pekerjaan sia-sia, membuang-buang waktu, yang hanya dilakukan oleh orang-orang aneh.

Bangsa kita tak suka membaca karena lebih suka menonton, terutama kini televisi. Sebab, berbeda dengan membaca, menonton terasa lebih nyaman dan tak perlu berpikir. Seraya berbaring pasif di sofa, bermacam informasi dan hiburan menyerbu ruang kepala kita. Tapi celakanya, acara-acara di televisi (kita) lebih banyak berisi sampah dibanding mutiara. Sinetron-sinetron kita lebih banyak menyediakan mimpi indah yang jauh dari kenyataan. Tayangan-tayangan televisi kita lebih suka memberikan harapan hadiah bernilai jutaan dengan menyedot dana melalui SMS yang berlipat harganya. Dan belakangan, ya itu tadi, masyarakat kita lebih senang berasyik-masyuk dengan Facebook.

Bagi kebanyakan orang Indonesia, buku seharga Rp 80 ribu itu mahal, tapi menu di restoran seharga yang sama dianggap murah. Buku seharga seratus ribu rupiah akan membuat orang menggeleng kepala, tapi Blackberry jutaan rupiah laris seperti tahu goreng. Wisata kuliner menjadi salah satu tujuan utama warga berbagai kota, utamanya Jakarta, ke Bandung.

**

YA, sudahlah. Boleh jadi kebanyakan orang kita belum memahami betapa luar biasanya manfaat yang bisa diperoleh dari sebuah buku. Mengutip sebuah pendapat, buku adalah jendela dunia. Dengan membuka buku, berarti kita membuka jendela semesta. Kita bisa melihat keluar, tidak hanya sebatas bingkai jendela, tetapi jauh lebih luas, menyaksikan sesuatu yang baru atau pemandangan yang berbeda dengan apa yang ada di rumah kita—di dalam pikiran kita. Dengan membuka buku, kita mengakui betapa luasnya semesta di sekitar kita.

Dengan membaca buku, kita menyelami dunia lain, yaitu sebuah dunia yang terpampang di layar pikiran orang lain. Dengan membaca buku, kita akan menyelami berbagai dunia orang lain yang pada gilirannya akan memberi kita kebijaksanaan yang lebih mendalam dalam menghadapi hidup.

Saat kita membaca buku yang membahas politik, berarti kita memahami pelbagai sudut pandang mengenai politik. Wawasan dan kebijaksanaan kita mengenai politik akan bertambah. Kita tidak akan terkungkung oleh kacamata kuda karena hanya menerima informasi visual dari televisi yang belakangan sekadar bergantung pada kekuatan pemilik modal.

Tatkala kita membaca sebuah novel atau buku puisi, kita akan memiliki pemahaman, imajinasi, ketajaman rasa, dan pola pikir yang jauh lebih luas. Kita juga bisa menyerap banyak hikmah dan pelajaran, bahkan juga ketegangan dan kegembiraan yang akan memberi kita rasa bahagia—mencapai katarsis.

Dengan kalimat-kalimat lain, buku adalah juga sarana bagi kita untuk berwisata menjelajahi pelbagai sudut kehidupan. Dengan membaca buku Fikih Sirah, misalnya, kita bisa melacak jejak hidup Rasululah Muhammad sebagai teladan yang sempurna dalam setiap aspek kehidupan. Dengan membaca Midnight’s Children, kita bisa menelusuri sejarah sebuah bangsa besar (India) melalui teks yang dikemas dengan cerdas dan jenaka. Dengan membaca Rumah Seribu Malaikat, kita bisa turut mengarungi lika-liku sebuah keluarga sederhana yang sudah mengasuh lebih dari lima puluh anak angkat, menyelami sebuah drama keluarga yang mengharukan, tentang tekad yang kuat untuk menunjukkan rasa syukur pada ilahi dengan cara menolong sesama.

Orang bilang, tidak ada satu pun buku yang pernah ditulis di dunia yang tidak membawa manfaat. Setiap buku, apa pun jenisnya, akan memberikan manfaat kepada kita jika kita mampu menangkap makna dan hikmahnya. Satu-satunya buku yang tidak membawa manfaat bukanlah buku yang bermutu rendah atau sekadar picisan, melainkan buku yang tidak pernah kita baca.

**

APAKAH Anda masih menganggap bahwa harga buku mahal? Anda tentu tidak salah. Bahkan sebagian kalangan pencinta buku pun berpendapat serupa. Ini memang salah satu persoalan di negeri ini. Dibanding dengan di India, misalnya, harga buku di Indonesia memang relatif lebih mahal. Bukan tidak mungkin, harga buku yang mahal menjadi salah satu faktor yang membuat minat baca masyarakat Indonesia tetap rendah. Karena itu, harus ada kemauan dari pemerintah untuk belajar dari, sebut saja, India. Misalnya, pemerintah harus melakukan perubahan terhadap aturan pajak buku, dengan cara menerapkannya sekecil mungkin. Di samping itu, pemerintah mestinya bisa menekan serendah mungkin harga kertas.

Para penerbit pun hendaknya bisa menerbitkan juga buku “edisi hemat”, dengan harga yang terjangkau, misalnya menggunakan jenis kertas koran, bukan kertas HVS, dengan ukuran huruf (font) yang lebih kecil dan spasi yang lebih rapat, dengan sampul tanpa huruf embos, dan banyak lagi cara.

Jalan alternatif untuk memperoleh buku yang (relatif) murah, tentu saja, adalah menghadiri acara pesta buku. Inilah saatnya kita bisa benar-benar berwisata buku, memilih bermacam jenis buku dan memperoleh buku-buku berkualitas dengan potongan harga yang memadai. Kadang kita secara tidak terduga bisa menemukan buku yang selama ini sulit kita dapatkan.

**

DENGAN gambaran betapa luar biasanya manfaat sebuah buku, sesungguhnya aneh kalau para pencinta dan pembaca buku digolongkan sebagai orang aneh. Tapi biarlah.

Aneh, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti “tidak seperti yang biasa kita lihat (dengar dan sebagainya)”. Aneh juga berarti ajaib atau ganjil. Ada juga yang mengartikan orang aneh sebagai “orang gila”. Namun kita yakin bahwa aneh, ajaib, ganjil, bahkan gila di sini tidak mengandung arti negatif. Orang yang sangat mencintai bola kerap disebut penggila bola. Di sini penggila memang berarti “orang yang sangat menyukai atau tergila-gila pada sesuatu”.

Jadi, biarlah kita menjadi (atau disebut sebagai) penggila buku—orang yang sangat menyukai atau tergila-gila pada buku.

Orang bilang, untuk meraih sesuatu yang sangat berharga, jangan ikuti jalan yang sudah dilalui orang banyak, tetapi carilah jalan sendiri, atau setidaknya jalan yang sudah dilalui orang sukses. Orang sukses itu tidak banyak jumlahnya. Orang yang seperti Thomas Alva Edison, yang mengerami telur ayam dalam sebuah percobaan untuk membuktikan apakah telur itu bisa menetas atau tidak, hanya segelintir jumlahnya. Pemain bola yang seperti Cristiano Ronaldo, yang menambah sendiri porsi latihannya, tidaklah banyak. Edison dianggap gila betulan. Ronaldo gila latihan. Tapi mereka adalah orang-orang sukses di bidang masing-masing.

Jadi, ikutilah jalan mereka. Biarlah kita menapaki jalan yang tidak dilalui orang banyak.

Marilah menjadi orang aneh. Marilah menjadi pencinta dan pembaca buku. Tetaplah membaca buku meskipun di sekeliling kita orang-orang riuh rendah memainkan telepon seluler. (*)

2 Comments

  1. Ha ha ha syukur saya termasuk golongan orang aneh itu,malah makin aneh lagi meritis toko buku online dan affline dengan konsep “Beli bukunya,Baca Bukunya,Dapatkan Duitnya”,ijin copy tulisannya ya,sukses selalu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*