Membaca Demi Kemerdekaan

Ahda Imran

“Mari Kita Masyarakatkan Kebodohan Dengan Berhenti Membaca”

DEMIKIAN tulisan yang menempel pada stiker di tempat penitipan tas sebuah toko buku di Bandung. Tulisan itu menarik karena terkesan menjadi ajakan yang menyesatkan, agar setiap orang berhenti membaca demi memasyarakatkan kebodohan. Dengan caranya sendiri,  sebenarnya stiker itu sedang mengatakan semacam kesadaran betapa pentingnya tradisi membaca di tengah masyarakat. Dengan kata lain, stiker itu sebenarnya adalah sebuah seruan yang jauh dari menyesatkan; tanpa tradisi membaca sebuah masyarakat akan hidup dalam ketidaktahuan, dalam kebodohan.

Membaca adalah membangun sebuah dunia; membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis; membaca adalah jendela ilmu pengetahuan; membaca adalah kunci menuju perubahan; membaca adalah kunci ilmu; membaca adalah kemampuan untuk memahami; membaca adalah pintu untuk berdialog dengan peradaban; membaca adalah pertemuan antara masa lampau, hari ini dan masa depan;  membaca adalah…..

Akan banyak lagi kita temukan definisi atau sejenis uraian betapa pentingnya tradisi membaca, sehingga seseorang bisa berdialog dengan segenap kenyataan yang ada di sekelilingnya. Dan keseluruhan definisi atau pengertian itu menyaran pada hubungan antara membaca dan tumbuhnya proses kesadaran seseorang. Termasuk kesadaran ihwal dirinya sebagai manusia—yang karena itulah membaca (Iqra) menjadi seruan pertama yang diperintahkan Tuhan dalam Al-quran Surah Al -Alaq.

Sejak peradaban tulis menulis ditemukan di Mesir 4000 SM—dan tak lama kemudian di Babilonia—temuan mesin cetak Guttenberg hingga revolusi teknologi informasi hari ini: tradisi tulis-baca telah menjadi bagian penting dalam berbagai sistem kebudayaan manusia.  Huruf, sebagai pengejawantahan dari bahasa akhirnya dipahami tak hanya sebagai sistem simbol dari komunikasi yang telah dimaterialisasikan; melainkan juga menjadi tempat manusia untuk saling berdialog dalam berbagai gagasan.

Membaca, pada akhirnya, telah menjadi tradisi yang mengantarkan ummat manusia memasuki berbagai kesadaran yang mengubah wajah kebudayaan dan peradaban. Satu hal dari kesadaran itu adalah kesadaran yang menyaran pada sikap pandangan dalam memaknai kemanusiaan dan kemerdekaan. Kemerdekaan berpikir dan kemerdekaan dari berbagai batasan yang mengungkung pemikiran. Karena itulah, buku, bagi orang seperti tokoh legendaris dalam sejarah Amerika Serikat seperti Thomas Jefferson sama halnya dengan kebutuhannya akan udara. Sementara itu novelis Argentina Jorge Luis Borges (1899-1986) selalu membayangkan bahwa sorga itu semacam perpustakaan. Sedangkan filsuf klasik Belanda Desiderius Erasmus sampai harus mengatakan, “Wanita piaraan saya adalah buku.”

Buku dan hubungannya dengan kesadaran manusia akan kemerdekaan tentu disadari benar oleh para penguasa. Maka menjadi tak aneh jika salah satu watak dari pemerintahan yang represif adalah mengawasi dan mengontrol apa yang layak dan tak layak dibaca oleh rakyat demi melestarikan kekuasaan mereka. Inilah, misalnya, yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda dengan kebijakan mereka mengendalikan bacaan rakyat. Mempersulit ijin pendirian percetakan dan penerbitan merupakan bagian dari kontrol tersebut sehingga rakyat tidak mengonsumsi bacaan yang di mata pemerintah kolonial dianggap sebagai agitator.

Untuk mengatur mana yang layak dibaca oleh rakyat Hindia, tahun 1908 pemerintah Hindia-Belanda merasa perlu membentuk Commissie voor de Inlansche School en Voklslectuur (Komisi Bacaan Rakyat). Komisi inilah yang menjadi cikal-bakal kelahiran lembaga yang menyediakan bacaan yang layak bagi kaum pribumi, yakni, Balai Poestaka. Selain menerbitkan karya sastra, lembaga ini juga menerbitkan berbagai bacaan bagi rakyat, termasuk buku-buku pertanian. Dari keseluruhannya, lewat bahan bacaan inilah pengetahuan rakyat pribumi dikontrol dan diawasi.

Tentu saja pemerintah Hindia-Belanda tak sendirian. Begitu banyak rejim pemerintahan represif yang mengontrol bahan bacaan yang beredar dengan berbagai cara dan alasan. Tak cukup hanya membungkam para pengarang dan membakar karya-karya mereka, tapi juga menghukum siapapun yang membaca karya mereka. Membaca buku yang tidak sesuai dengan keinginan pemerintah bahkan bisa dianggap sebagai kejahatan. Lebih dari itu, mereka tahu benar  membaca adalah mengolah pemikiran. Karena itulah, salah satu cara untuk  mengontrol apa yang dipikirkan oleh rakyat ialah melalui pengaturan bahan bacaan.

Sebaliknya pemerintahan yang represif hanya menghendaki rakyatnya mengkonsumsi bacaan yang telah disensor pemerintah. Rakyat tidak memiliki pilihan lain kecuali membaca apa yang telah diiijinkan dan direstui oleh pemerintah, yang tentu saja harus sesuai dengan keinginannya. Rakyat di situ akhirnya bukan hanya tidak memiliki kemerdekaan, tapi juga hidup dalam dunia yang terbelenggu. Bahan bacaan tak pernah bisa menjadi cermin dari kenyataan yang mereka alami, sekaligus juga tak pernah bisa menjadi dunia yang leluasa untuk berdialog.

Membaca tentu bukan hanya sekadar untuk mendapatkan informasi. Melainkan juga berhubungan dengan tumbuhnya proses pemikiran dan kesadaran. Bagaimanapun membaca adalah langkah pertama dalam biografi intelektual seseorang sebelum lalu melahirkan berbagai kesadaran dalam dirinya. Dengan membacalah sejumlah orang lahir untuk menyerukan kesadaran sehingga revolusi terjadi, sehingga sejarah bergerak. Munculnya elite modern di Indonesia akhir abad 19 merupakan gerak dinamika sejarah yang mengantarkan bangsa ini pada ide-ide tentang modernitas, nasionalisme, kemerdekaan, dan sebuah negara modern bernama Indonesia. Cokroaminito, Agus Salim, Yamin, Soekarno, Hatta, Kartini, Tan Malaka, Syharir, hanyalah segelintir dari elite modern Indonesia yang menyuntuki berbagai bacaan demi kesadaran tentang ide-ide kemerdekaan.

**

MEMBACA adalah kemerdekaan dalam mencari dan menemukan pengalaman hingga batas-batasnya yang tidak terduga.  Karena itulah filsuf terkemuka seperti Descartes mentamsilkan membaca buku dengan bercakap-cakap bersama orang-orang dari abad-abad terdahulu. Tamsil itu menjelaskan bahwa membaca merupakan peristiwa pertemuan yang menakjubkan ketika waktu dan ruang kehilangan sekat dan batasnya. Pertemuan antara penulis dan pembaca berlangsung dalam peristiwa yang intim, sangat personal untuk saling berdialog. Penulis, yang mungkin datang dari masa lampau—sebagaimana tulisan adalah rekaman dari denyut masa lampau—bertemu dengan pembaca dalam ruang kekinian.

Jika menulis banyak dipahami sebagai peristiwa yang berlangsung di ranah publik, maka membaca lebih bersifat personal. Membaca adalah peristiwa atau pengalaman yang amat privasi ketika seorang individu membangun sebuah dunia di dalam dirinya. Di ruang privasi itulah seseorang berjumpa dengan berbagai dunia di luar dunia yang telah dikenalnya. Ia memasuki dan merambah kenyataan di luar apa yang telah dikenalinya; termasuk kenyataan yang dibangun dan berada dalam ruang imajinasi.

Dengan begitu, membaca telah membawa seseorang ke dalam berbagai dimensi kenyataan, termasuk kenyataan dunia imajinasi seperti yang dimaktubkan oleh karya-karya fiksi. Membaca novel “Harry Potter” karya J.K. Rowling, misalnya, imajinasi sebagai kenyataan dirayakan oleh jutaan orang di seluruh dunia. Pula begitu ketika kita menyelami kehidupan dan semangat anak-anak di Belitong dalam “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata, atau sejumlah karya fiksi lainnya yang membawa pembacanya ke dalam pengembaraan yang menakjubkan bersama imajinasi. Mereka diajak bertemu dengan banyak karakter manusia, waktu, tempat, konflik, dan berbagai suasana di dalamnya. Membaca di situ telah menjadi petualangan dan pariwisata imajinasi yang memukau dalam sebuah perayaan kemerdekaan.

Demikian pula halnya ketika bacaan difungsikan sebagai sumber atau mata air bagi wawasan dan pengetahuan. Secara fungsional membaca di sini menjadi peristiwa yang dilimpahi oleh berbagai informasi tentang segala sesuatu yang barangkali sebelumnya belum pernah kita ketahui. Mungkin informasi sebuah negeri, iklim, adat-istiadat di suatu tempat, masa lalunya atau sejumlah hal lainnya yang bisa memperkaya wawasan dan pengetahuan. Selain itu sebuah bacaan juga berfungsi sebagai “penuntun” atau guiders, menawarkan jalan keluar seraya memberi sejumlah harapan.

Sedangkan di sisi yang lain, membaca juga bermakna sebagai penjelajahan seseorang di dunia pemikiran. Dalam hal ini, membaca adalah sebuah petualangan intelektual. Sebuah buku tak hanya dipahami sebagai sesuatu yang fungsional, melainkan sebagai cara untuk masuk, berdialog, dan berinteraksi dalam sebuah jagat dialektika pemikiran. Inilah pintu gerbang untuk masuk menuju tradisi pemikiran, baik sekadar untuk mengikutinya atau pun yang terlibat di dalamnya. Membaca di situ adalah perjumpaan dengan berbagai fenomena dalam dunia pemikiran manusia, saling memengaruhi, saling meruntuhkan, menerima dan menolak, dan saling menyodorkan argumentasi.

Berbagai kenyataan dan fenomena dunia manusia seolah terurai-urai, tapi tetaplah melukiskan sejarah pemikiran dalam tradisi dan mata rantai khazanah intelektual yang saling berkaitan. Dalam tradisi dan khazanah pemikiran itu, jejak-jejak pemikiran orang sebelumnya tak putus-putusnya dibaca, diuji dan dipertanyakan. Seseorang di dalamnya bertemu dan berdialog dengan banyak jejak pemikiran yang menjadi  bagian penting dari biografi intelektual seseorang. Di situ, membaca telah menjadi semacam kebutuhan demi memaknai kemerdekaan dunia pemikiran manusia dalam perjalanan peradaban dan kebudayaan.

Dan buku adalah sebuah dunia yang ditenteng. Di dalam dunia yang ditenteng itulah di setiap halamannya kemerdekaan setiap individu dirayakan dalam jagat imajinasi dan khazanah pemikiran. Berbagai kenyataan, imajinasi, fenomena, sikap pandangan, konsepsi , gagasan, hingga argumentasi yang saling mempengaruhi dan mengkritisi, hadir dalam perayaan dunia manusia yang merdeka serta beragam-ragam  Buku, kata pepatah Tiongkok kuno, tak ubahnya sebuah taman yang bisa dimasukkan ke dalam kantong.

**

SEBUAH buku adalah sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan seorang penulis dan kemerdekaan seorang pembaca untuk masuk dan berdialog di dalamnya. Membaca adalah memberi santapan pada rohani dan pemikiran. Karena itulah masyarakat yang hidup dengan sebuah tradisi membaca, kemerdekaan selalu menjadi ruang pertemuan berbagai pemikiran. Saling berinetraksi, berdialog, dan mengkritisi. Setiap orang hidup dalam pengetahuan yang tak mudah dikelabui oleh apa pun, kekuasaan, gaya hidup yang serba artifisial, atau bahkan oleh manipulasi pemikiran itu sendiri. Buku dan aktivitas membaca telah menjadi kebutuhan setiap orang untuk mencari dan menemukan berbagai pengalaman baru.

Dan kemerdekaan semacam ini tidaklah pernah terjadi dalam sebuah masyarakat di mana aktivitas membaca lebih dikarenakan keharusan ketimbang menjadi kebutuhan. Membaca konsep perjanjian bisnis, membaca laporan dan pengumuman, membaca brosur pariwisata, membaca tugas kuliah demi ujian, membaca e-mail, membaca teks terjemaahan sebuah fil asing, sampai membaca SMS. Orang membaca lebih karena tujuan-tujuan yang sifatnya pragmatis dan berhubungan langsung dengan dunia keseharian. Membaca tak pernah dimaknai sebagai aktivitas yang lebih dari sekadar itu. Terlebih di tengah budaya tontonan seperti hari ini.

Karena itulah makna kemerdekaan di tengah masyarakat semacam ini berbeda dengan masyarakat yang hidup dengan tradisi dan budaya membaca. Karena buku dan membaca adalah membangun sebuah dunia, maka hanya mereka yang memiliki tradisi membaca sajalah yang sebenarnya memiliki sebuah dunia yang benar-benar merdeka dan memahami kemerdekaan.

Berhenti membaca adalah memasyarakatkan kebodohan, dan sangat mustahil masyarakat yang bodoh bisa mengerti dan memahami kemerdekaan.**

Ahda Imran, esais dan penyair

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*