Menguak Belantara Bacaan

Oleh ENJANG A.S.

SUDAH sangat jelas kalau buku bisa meningkatkan kecerdasan secara mudah dan praktis. Dari dulu sampai sekarang buku adalah teman setia dan guru paling mudah ditemui di mana pun dan kapan pun. Kita bisa berdiskusi dan belajar dari buku tanpa ada pembatas ruang dan waktu. Bahkan di antara orang-orang hebat dan sukses di bidangnya, sangat dibantu oleh buku dalam pencapaiannya.

Kita percaya bahwa buku adalah jendela dunia. Dengan membaca buku, masyarakat diberikan pemahaman lebih, cakrawala yang luas, sehingga mereka dengan sendirinya bisa mengubah hidup menuju kemandirian. Namun buku tidak begitu saja bisa mengubah seseorang menjadi cerdas dan pintar. Tentunya harus dibiasakan dengan budaya membaca yang inten setiap saat dan ada waktu. Dengan membaca, kita akan dengan mudah menguasai pelbagai ilmu pengetahuan, informasi dan segala macam yang awalnya tidak kita ketahui. Tapi betulkah minat baca masyarakat sudah bagus?

Budaya baca agaknya tetap menjadi persoalan besar di negeri ini. Penyair Taufiq Ismail mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia masih rabun membaca dan pincang menulis. Hal ini ia tegaskan setelah melakukan penelitian sederhana kepada Siswa SMU di 13 negara. Jika siswa SMU di Amerika Serikat menghabiskan 32 judul buku sastra selama tiga tahun, di Jepang dan Swiss 15 buku, siswa SMU di negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam menamatkan membaca 5-7 judul buku sastra, siswa SMU di Indonesia nol buku.

Benarkah minat baca di Indonesia—yang pada era Algemeene Middelbare School (AMS) Hindia Belanda, selama belajar di sana siswa diwajibkan membaca 15-25 judul buku sastra—ini kurang? Dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2003 memang budaya baca bangsa Indonesia sangat rendah. Data itu menggambarkan bahwa penduduk Indonesia berumur di atas 15 tahun yang membaca koran pada minggu hanya 55,11 %. Sedangkan yang membaca majalah atau tabloid hanya 29,22 %, buku cerita 16,72 %, buku pelajaran sekolah 44.28 %, dan yang membaca buku ilmu pengetahuan lainnya hanya 21,07 %.

Namun beberapa tahun belakangan ini, kalau diamati dan dilakukan penelitian terhadap minat baca, bisa dipastikan kondisi sekarang berbeda dengan lima tahun ke belakang. Sebagai bukti, beberapa tahun terakhir masyarakat buku disemarakkan dengan lahirnya berbagai buku yang terus mencatat rekor best seller dari tahun ke tahunnya. Mulai dari The Da Vinci Code, Ayat-Ayat Cinta dan novel-novel sejenis, dan terakhir tetralogi Laskar Pelangi.

Dari beberapa buku tadi semua orang mengenal, mengetahui dan ada yang membacanya berulang kali. Ini sebuah petanda baik untuk minat dan budaya baca di Indonesia yang mengalami perkembangan pesat. Jadi bukan sesuatu yang mustahil akan lahir lagi buku-buku best seller berikutnya. Karena membaca sampai mengkoleksi buku seperti sebuah life style baru untuk kalangan masyarakat Indonesia saat ini.

Memang Indonesia tidak bisa dibandingkan dengan Cina, yang berpenduduk 1,3 miliar jiwa mampu menerbitkan 140.000 judul buku baru setiap tahunnya. Vietnam dengan 80 juta jiwa menerbitkan 15.000 judul buku baru per tahun, Malaysia berpenduduk 26 juta jiwa menerbitkan 10.000 judul, sedangkan Indonesia dengan 220 juta jiwa hanya mampu menerbitkan 10.000 judul pertahun.

Namun seiring ramainya orang mulai membuat bisnis penerbitan, dan peluang penerbit baru nan kecil untuk mencetak sejarah dengan buku bestseller yang terbuka lebar, hal itu akan mendorong terhadap jumlah judul buku yang pertahunnya akan memperlihatkan peningkatkan judul baru.

Di samping itu, optimisnya akan peningkatan budaya baca karena adanya sokongan dari pemerintah. Pemerintah dalam persoalan meningkatkan minat baca menunjukkan perhatian yang cukup serius. Di dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab III Pasal 4 ayat 5, dijelaskan bahwa salah satu cara penyelenggaraan pendidikan adalah dengan mengembangkan budaya baca, menulis dan berhitung. Dalam kegiatan informal, Taman bacaan Masyarakat adalah salah satu proyek pemerintah di bawah Pendidikan Kemasyarakatan. Bahkan pada 2006, Depdiknas khusus membuat Subdit Budaya Baca.

Di tambah lagi dengan membudayanya taman bacaan akan besar kontribusinya dalam mengembangkan budaya baca di tengah masyarakat. Perkembangan Taman Bacaan atau komunitas literasi akan mendekatkan buku kepada pembaca. Dan beragam buku pun mulai digandrungi.

Beragam versi dari taman bacaan masyarakat didirikan. Ada yang memang ingin mencari sekedar penghidupan (projek) dari block grant, kepentingan politik (kelompok dan golongan), ada pula yang murni ingin membantu program pemerintah dalam memberantas buta aksara. Dalam versi depdiknas, terekam sekitar 4000-5000 Taman Bacaan yang tumbuh di masyarakat Indonesia.

Satu lagi dukungan akan semakin mengertinya masyarakat akan buku adalah peran serta penulis. Kini, mulai semarak para penulis yang peduli dengan keadaan sekelilingnya. Beberapa di antara penulis mulai menyisihkan honorariumnya untuk membantu meningkatkan hobi membaca masyarakat yang tak mampu. Ada juga yang mengeluarkan buku-buku di perpustakaan pribadi untuk bisa diakses secara bebas orang sekitar tempat tinggalnya, dan beragam lainnya. Penulis dan pembaca jelas tak bisa dipisahkan, secara tidak langsung, ketika penulis menciptakan suasana seperti itu, maka fans baca buku yang bisa saja melahap buku-buku yang ditulisnya pun terbentuk. Juga terjadi sinergisitas antara penulis dan pembaca.

Dengan semakin meningkatnya budaya membaca, maka semakin besar pula peluang untuk menjadi cerdas. Banyak manfaat dan keuntungan yang didapat dengan membaca buku, tidak saja menjadi semakin arif juga akan terangsang kreativitas atau skill hidup yang itu dibutuhkan rakyat Indonesia saat ini.***

Enjang A.S., M.Si., M.Ag., Ketua Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Gunung Djati Bandung.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*