Pesta Buku, Pesta Sabu, dan Pesta Kaum Babu

Oleh AGUS AHMAD SAFE’I

PESTA buku namanya. Ini jelas pestanya kaum intelek nan melek. Pesta buku namanya, maka hidangannya juga pastilah buku belaka. Berhubung kaum intelek juga manusia, bukan kecoa atau sejenisnya, maka yang mereka ganyang bukanlah buku-buku yang mereka jumpa di arena bursa, melainkan segala makna yang ngumpet di sebaliknya.

Bagi mereka yang sudah masuk kategori bookholic atawa pemabuk buku, biasanya mereka berpesta dengan agak beringas. Matanya melotot dengan buas. Segala jenis buku digerayangi dan diremas. Semua buku inginnya dikemas sampai dengkul lecet, lemas, dan waswas.

Kalau ada buku kesukaan yang sudah lama diincar, mereka akan mengubernya ke sana ke mari tiada lelahnya. Bolak-balik tak berkelelahan bagai ikan dalam kolam. Sampai buku yang diuber-ubernya tertangkap tiada daya. Bagi mereka yang dompetnya sedang sehat tidak kurang suatu apa, biasanya akan segera memboyongnya. Adapun bagi yang kantongnya sedang meriang atau sedikit flu, mereka hanya bisa memandangi buku yang disukanya di tempat itu saja. Diusap, dibuka, dibolak-balik sampai mata lamur, belel, dan berkunang-kunang; tanpa kuasa untuk membawanya pulang.

Pesta buku, tidak bisa tidak, pastilah sejenis kemewahan di tengah budaya yang lebih memanjakan pendengaran dan penglihatan. Apalagi di tengah masyarakat yang kecoa atau rayapnya lebih rajin membaca ketimbang mahasiswa atau dosennya. Jadi, pesta buku jelas bukan pesta biasa. Ia pestanya kaum yang mata(kesadaran)nya telah terbuka. Baik sadar pengetahuannya, sadar wawasannya, maupun, terutama, sadar ekonominya. Baik yang sadar bahwa dia sadar atau pun tidak.

Selain pesta buku, pesta lain pun ada. Namanya pesta sabu. Ini dia pestanya kaum pemuja bayangan yang terbelenggu hantu. Pesta sabu adalah pestanya kaum pemburu bayangan; bayangan kenikmatan, bayangan ketenangan, bayangan hidup tanpa aturan. Sampai cakar nasib yang sinting kemudian mencampakkannya ke gua terjal berbatu.

Pesta jenis ini biasanya berakhir di ujung gelap ruang  tanpa harapan, untuk kemudian terdampar di lembaga pemasyarakatan. Sembari mendekam di sana, baik berlama-lama atau pun sebentar saja, mereka bisa membayangkan lembaga pemasyarakatan yang lebih kekal di alam baka sana. Membayangkan malaikat Jabaniyah datang menyambar dengan sangar. Bila sudah begitu adanya, biasanya hati akan menjadi lemah dan gentar.

Jika cahaya berkenan datang, di antara mereka ada yang segera mengubah haluan, dan segera bangun dari mimpi panjangnya. Beberapa lainnya memutuskan untuk tetap berada di labirin mimpi yang tak bertepi, sampai senja merebut mentari. Mereka itulah yang—oleh Ustaz Sanusi—disebut golongan kiri, alias golongan orang-orang yang merugi.

Nah, terakhir, ada yang disebut pesta kaum babu. Pesta babu adalah pestanya kita semua. Jangan tersinggung dalu, para pembaca yang budiman. Sekarang mari kita dengar khotbah orang-orang pintar tentang pesta para babu ini.

Kabarnya, sejak tahun 1960-an yang lalu, sudah ramai dibicarakan para pengendali sejarah perihal kedatangan suatu zaman modern dengan iptek sebagai ‘imam’-nya. Zaman modern—atau technical age dalam terminologi Marshal Hodgson—ini akan mendunia, mengglobal, dan bermuara pada sebuah model dunia 40: 60. Artinya, kelak hanya 40 persen dari seluruh penduduk dunia yang aktif berpartisipasi dalam kehidupan, pencarian nafkah, dan konsumsi; sisanya, yang 60 persen, hanya para ‘penggembira’ yang hidup segan mati tak mau.

Siapakah yang 40 persen itu? Mereka adalah para pekerja otak (knowledge worker). Istilah “knowledge worker”—sebagai pasangan istilah disguised unemployment—dalam terminologi ‘ayatullah’ manajemen modern Peter F Drucker disebut kagnitariat yang biasa dipasangkan dengan istilah proletariat, atau Alvin Toffler biasa menyebutnya dengan istilah “employee” yang menjadi pasangan kata worker. Sebutan “knowledge worker” merujuk kepada pengertian tenaga-tenaga terampil yang cenderung lebih banyak menggunakan kemampuan kognisinya, dan setiap saat selalu siap meng-upgrade kemampuannya. Sebagian terbesar kaum pekerja otak berada di negeri-negeri utara yang sangat menguasai iptek, berbudaya keilmuan yang canggih, dan budaya itu langsung diintegrasikan ke dalam sistem ekonomi nasionalnya.

Sisanya, 60 persen, terdiri dari manusia yang tidak berpengetahuan ilmiah, para disguised unemployment—yang kelihatannya bekerja padahal sesungguhnya tidak really productive; mereka dibiarkan hidup demi ‘kemanusiaan’ belaka. Secara teknis, situasi seperti ini dikenal dengan sebutan subsisten. Artinya, hidup untuk sekadar tidak mati, untuk dapat terus bergerak dan bernapas ala kadarnya. Begitu minimalnya prasyarat hidup yang mereka miliki sehingga kadangkala mereka diistilahkan sebagai subhuman alias setengah manusia.

Dekade berikutnya, 1970-an, angka perbandingan tadi bergeser menjadi 30: 70. Pada tahun 1997, menurut kabar dari Mbah Daoed Joesoef, angka itu tiba pada kisaran 20: 80. Betapa gawatnya! Karena, itu berarti 80 persen dari seluruh umat manusia yang nongkrong di atas dunia ini adalah manusia parasit, yang umumnya berada di bumi belahan selatan. Berat dugaan saya, Indonesia adalah penyumbang terbesar untuk angka 80 persen itu.

Kabarnya, kata Eyang Daoed Joesoef, dahulu kala Belanda pernah menjuluki Indonesia sebagai een volk van koelies en een koelie onder de volken alias satu bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa. Kalau melihat betapa besarnya angka TKI-TKW yang umumnya bekerja sebagai babu saat ini, stigma demikian amatlah sulit untuk kita bantah. Dalam berbagai kesempatan, Adi Sasono—kata orang, dia Robinhood dari Pekalongan—selalu menyatakan, “Kalau pekerja asing masuk Indonesia, namanya kaum profesional dan gajinya 5000 dolar; kalau pekerja Indonesia yang ke luar negeri, namanya TKI dan gajinya 500 dolar.” Begitulah.

Setiap hari, di televisi, di radio, di koran-koran, kita mendengar dan menyaksikan pesta pora ketidakberdayaan masyarakat kita dalam hampir seluruh matra kehidupan. Kita lihat bagaimana para TKI atau TKW di negeri orang yang disiksa dan diuber-uber seperti maling sendal di masjid. Di dalam negeri, keadaan tak kalah suramnya. Keterjepitan hidup bagai datang berduyun-duyun menunggu giliran. Karikatur kemiskinan terserak di mana-mana secara amat semarak. Semua begitu transparan. Semua begitu telanjang. Begitulah nasib negeri yang malang (lho, kok, ini mah judul buku saya).

Lebih-lebih, setelah Oktober lalu, bangsa ini disikat habis oleh badai kenaikan BBM yang mengerikan. Badai yang mungkin sama ganasnya dengan gelombang tsunami. Pasca ’angin ribut’ BBM itu, jumlah orang miskin pun segera membengkak hebat. Pengangguran bergelimpangan akibat dihantam ’air bah’ PHK yang keparat. Masyarakat sekarang kerjanya bingung dan terlongo-longo. Tak tahu apa yang harus dikerjakan. Tak tahu mengapa mereka sampai tak tahu. Setiap hari mereka sibuk dengan pesta kebingungan dan ketidakmengertian.

Jadi, jika mereka tidak terlalu banyak yang datang ke arena pesta buku di Braga, harap maklum saja. Mereka juga sedang berpesta: pesta ketidakberdayaan, pesta kepapaan, juga pesta kebingungan.

Ya Allah, jika pun mereka tak datang ke pesta buku, jangan pernah langkahkan kaki mereka ke pesta sabu. Sebab, akibatnya hidup kami semua bisa jadi bisu, kaku, dan beku, seperti batu! Ya Allah, syukur kami—para panitia—menjadi tak berbatas sekiranya Engkau berkenan menggiring mereka semua untuk—sekali saja—datang ke pesta buku. Amin…

Mekarjati,  9 Januari 2006

Agus Ahmad Safe’i, M.Ag., Penyuka pesta buku, anti pesta sabu, yang hidup di negeri babu. Kontak: 08122182584 atau guriang7@yahoo.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*