Prospek Penulisan Buku Pengayaan

Oleh Edi Warsidi

Tulis-menulis dan karang-mengarang tidak pernah berujung. Aktivitas ini akan terus hidup selama dunia masih ada. Orang terus menulis dan mengarang dengan berbagai media, baik media massa cetak (koran/majalah/tabloid), buku maupun media elektronik (internet). Semua media ini merupakan sarana memperluas gagasan/harapan/pengetahuan bagi masing-masing pembacanya.

Hari ini, kita berkumpul di Universitas Padjadjaran dalam rangka ”Pesta Buku Diskon 2010” (Ikapi-Unpad) dan hari ini pula kita berkesempatan saling menyapa dalam acara workshop yang pokok pembicaraannya tentang prospek penulisan buku pengayaan.

Dunia tulis-menulis dan karang-mengarang di berbagai media cetak sudah saya coba bertahun-tahun. Sejumlah karya tulis (artikel, resensi buku, esai, dan catatan perjalanan) serta karya sastra (puisi dan cerpen) yang dinilai layak muat pernah menghiasi berbagai media massa lokal dan nasional. Inilah yang membuat saya yakin dan percaya diri; kegiatan menulis dan mengarang ini sebagai bagian hidup yang paling menyenangkan.

Kesenangan tersebut saya awali tahun 1991; saat itu menulis sebagai kegiatan iseng. Walaupun iseng, justru dengan keisengan itu sesungguhnya saya sedang ingin menyampaikan pesan tertentu. Sesungguhnya iseng bukan pada konten, tetapi pada proses. Sambil mengisi waktu luang menulis, iseng adalah proses saat saya mengisi luang dengan menulis. Adapun isi tulisannya belum tentu jelek, bahkan bisa jadi lebih bagus dari yang menulis dengan serius. Inilah berkah dari keisengan yang berproses menjadi aktivitas serius.

Dengan keseriusan, aktivitas menulis ini menjadi bagian dari ’sembako’ kehidupan yang perlu dipenuhi. Karena perlu dipenuhi, kegiatan menulis/mengarang perlu dijaga agar karya tetap bermakna dan berharga. Cara umum menjaga agar tulisan tetap bermakna dan berharga, dahulu (sampai sekarang) tetap menjaga hobi baca, jalan-jalan, dan diskusi antarteman/komunitas sehingga kegiatan ini pun menjadi ’bahan bakar’ yang baik untuk kegiatan seorang penulis/pengarang.

Aktivitas menulis/mengarang di media massa cukup membuat saya yakin bahwa suatu saat perlu mengekplorasi gagasan ke media lain, yakni buku. Sejak 1997, saya mulai menulis buku pelajaran dengan beberapa teman. Kemudian, menulis cerita anak. Dua buku ini merupakan ’tiket’ bagi saya untuk mencoba menulis di penerbit lain. Pada 2004, 2007, dan 2008 merupakan masa paling mengasyikkan bagi karier menulis saya. Kumpulan cerita anak yang saya tulis dari 1997 sampai 2004 di berbagai media massa cetak, dikirim ulang ke Penerbit DAR! Mizan dan direspon untuk diterbitkan. Pada 2007, cerita anak bertema sains sederhana untuk anak juga diterbitkan DAR! Mizan. Lalu, pada 2008, saya mengikuti sayembara penulisan buku pelajaran (Pusat Perbukuan [Pusbuk] Depdiknas) dan dinyatakan lolos dan lulus seleksi sehingga buku ini menjadi proyek buku murah untuk digunakan di sekolah-sekolah (versi cetak dan BSE). Sungguh honorarium dari buku pelajaran yang lumayan itu kian membakar semangat untuk terus menulis/mengarang.

Tiap tahun Pusbuk kerap mengadakan sayembara penulisan naskah buku pelajaran dan pengayaan. Saya pun makin tertartik dengan lomba tersebut. Alhasil, karena naskah buku pelajaran yang lulus pada 2008, ada beberapa penerbit di luar Jawa Barat yang menawari menulis buku pengayaan. Mula-mula penerbit memesan 10 judul dan naskah ini pun semuanya lulus sebagai buku pengayaan.

Makin percaya diri, saya pun memasang iklan di beberapa situs internet. Isi iklannya tidak jauh dari jasa penulisan dan penyuntingan naskah. Karena iklan ini, banyak penerbit yang merespons dan akhirnya memesan naskah, khususnya buku pengayaan.

Selama dunia pendidikan masih ada, peluang menulis jenis buku ini tetap masih berprospek. Yang susah (tetapi alamiah) justru meniti karier menulis/mengarang. Semua harus dilalui dengan ketekunan dan kesabaran sambil tetap terus melakukan perbaikan mutu tulisan. Jangan lupakan pula menjaring kawan di banyak tempat, terutama dengan para editor di berbagai penerbitan. Berdiskusi dengan mereka, banyak informasi penting yang menunjang karier penulis/pengarang.

Selama menekuni tulis-menulis/karang-mengarang, saya pun kian berani mencoba menciptakan jenis-jenis tulisan di luar sayembara. Tanpa sungkan pula, saya sering bertanya ke penerbit; apakah kira-kira naskah yang dibutuhkan?

Ternyata, dunia penerbitan buku pun kian beragam. Ada yang memang eksis sejak awal sebagai penerbit khusus buku umum (pasar bebas) dan ada juga penerbit yang menerbitkan khusus buku proyek (musiman) serta jenis penerbit buku proyek dan pasar bebas. Dari pengetahuan ini pun, penulis/pengarang makin tahu ke mana ’memasarkan’ naskahnya.

***

Edi Warsidi, lahir di Bandung. Karya tulisnya berupa cerpen, puisi, esai, resensi buku, dan catatan perjalanan di muat di media massa, seperti Pikiran Rakyat, Galamedia, Tribun Jabar, Lampung Pos, Surabaya Pos, Media Indonesia, Republika, dan Sinar Pagi.

Artikel tentang penulisan, penyuntingan, dan penerbitan pernah dimuat Majalah Matabaca (Gramedia Group), Info Buku, Berita Buku, dan Warta Ikapi (DKI Jakarta).

Karya buku yang pernah terbit, antara lain:

  • Dua Kumpulan Cerita Anak (2004 dan 2007) diterbitkan DAR! Mizan Bandung
  • Wanita Pahlawan (2003) diterbitkan Yudhistira Bogor.
  • Belajar Antre kepada Semut (2004) diterbitkan Visindo Bandung
  • Bangau Makan Ikan (Cerita Anak, 2004) diterbitkan Visindo Bandung
  • Dida Melukis Mata (Kumpulan Cerpen Anak, 2005) diterbitkan Karsa Mandiri Bandung
  • Sepeda Tua Pak Diran (Novel Anak, 2005) diterbitkan Visindo Bandung
  • Menjadi Ghostwriter (2004) diterbitkan Karsa Mandiri Bandung
  • Membaca Pikiran Orang Lain Sejelas Membaca Buku (Cet-III, 2010) diterbitkan Medpress, Yogyakara

Di samping menulis/mengarang, aktivitas lainnya adalah mengajarkan bahasa Indonesia pada STAI Sabili Bandung dan pengampu matakuliah penyuntingan dan penerbitan di Program Studi Editing, Fakultas Sastra UNPAD.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*