Tentang IKAPI

Gedung IkapiIkatan Penerbit Indonesia (Ikapi) adalah asosiasi profesi penerbit pertama yang ada di Indonesia. Sampai tahun 2010, Ikapi eksis sebagai satu-satunya asosiasi yang menaungi para penerbit di Indonesia. Setelah itu berdiri juga Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI) yang menaungi university press di Indonesia. Walaupun demikian, anggota APPTI sebagian besar juga adalah anggota Ikapi. Tahun 2015, Ikapi telah memasuki usia ke-65 tahun dan telah ikut bersama-sama pemerintah setelah Indonesia merdeka, membangun masyarakat membaca dan masyarakat menulis. Ikapi juga memperjuangkan tumbuhnya semangat profesionalisme di kalangan penerbit buku dengan berbagai program yang dirancang oleh para ketua Ikapi selama lima tahun kepemimpinan dalam setiap periode.

Pertama dalam Sejarah IKAPI

  1. Ketua IKAPI I: Achmad Notosoetardjo (1950-1954 dan 1954-1959)
  2. Kongres IKAPI I: Jakarta, 16-18 Maret 1954
  3. Majalah IKAPI I: Suara Penerbit Nasional, terbit perdana April 1954
  4. Cabang IKAPI I: Cabang Sumatera Utara
  5. Pameran Buku I: Pameran Buku IKAPI Cabang Sumatera Utara, April 1954
  6. Pameran Buku Nasional I: Pameran Buku Nasional yang diselenggarakan PT Gunung Agung di Decca Park (kini Lapangan Monas), September 1954. Pameran ini menjadi pameran bersejarah karena dihadiri oleh Soekarno-Hatta serta Menteri PP dan K, Mr. Mohammad Yamin.
  7. Pameran IKAPI Pusat I: Pameran IKAPI di Hotel Duta Indonesia (Des Indes), 17 Agustus 1955. Pameran ini menjadi pameran pertama dan terakhir yang diselenggarakan IKAPI hingga vakum selama 22 tahun.
  8. Pameran Buku I di Luar Negeri: Singapura, 16-21 September 1956

Ketua Ikapi Pusat dari Masa ke Masa

  1. Acmad Notosoetardjo : 1950-1954 & 1954-1959
  2. Drs. Hazil Tanzil : 1959-1963
  3. M. Hoetaoeroek, S.H. : 1963-1965 & 1965-1968
  4. H. Machmoed : 1968-1973
  5. Ajip Rosidi : 1973-1976 & 1976-1979
  6. Ismid Hadad MPA : 1979-1981 & 1982-1983
  7. Rahmat M.A.S. : 1981-1982
  8. Drs. Azmi Syahbuddin : 1985-1988
  9. H. Rozali Usman, S.H. : 1983-1985 & 1988-1993 & 1993-1998
  10. Dra. Arselan Harahap : 1998-2002
  11. Ir. Makhfudin Wirya Atmaja, M.M. : 2002-2006
  12. Setia Dharma Madjid : 2006-2010
  13. Drs. Lucya Andam Dewi, M.Si. : 2010-2015

Sejarah Singkat

Ikapi didirikan pada tanggal 17 Mei 1950 di Jakarta. Para pelopor dan inisiator pendirian Ikapi adalah Sutan Takdir Alisjahbana, M. Jusuf Ahmad, dan Nyonya A. Notosoetardjo. Pendirian IKAPI didorong oleh semangat nasionalisme setelah Indonesia merdeka tahun 1945.

Ikapi kemudian dibentuk sebagai organisasi profesi penerbit buku berasaskan Pancasila, gotong royong, dan kekeluargaan.Atas dasar kesepakatan para pendiri Ikapi diangkatlah Achmad Notosoetardjo sebagai ketua umum Ikapi pertama, Ny. Sutan Takdir Alisjahbana sebagai wakil ketua, Machmoed sebagai sekretaris, M. Jusuf Ahmad sebagai bendahara, dan John Sirie sebagai komisaris. Pada masa awal tersebut bergabung tiga belas penerbit, sesuai dengan buku yang disusun oleh Mahbub Djunaidi dan versi lain dari Zubaidah Isa menyebutkan jumlah empat belas penerbit bergabung pada masa awal Ikapi tersebut. Namun, baik Mahbub maupun Zubaidah tidak menyebutkan siapa saja penerbit yang bergabung tersebut.

Lima tahun setelah berdiri, Ikapi mampu menghimpun 46 anggota penerbit yang sebagian besar berdomisili di Jakarta dan sisanya di Pulau Jawa dan Sumatera. Kantor Ikapi dipusatkan di Jakarta sebagai ibu kota negara. Dalam sejarah perkembangannya, Medan sebagai salah satu kota basis penerbitan di Indonesia telah lebih dulu memiliki organisasi yang menghimpun penerbit dan pedagang buku lokal sejak 1952. Organisasi itu bernama Gabungan Penerbit Medan (Gapim) dengan 40 anggota dan 24 di antaranya adalah pedagang buku. Ikapi kemudian merangkul Gapim melalui kunjungan ketua Ikapi ke Medan pada September 1953. Gapim bersedia melebur ke dalam wadah Ikapi sehingga terbentuklah Ikapi Cabang Sumatera Utara pada Oktober 1953 dengan 16 anggota sebagai cabang Ikapi pertama.

Kongres Ikapi I diadakan pada tanggal 16-18 Maret 1954 di Jakarta. Kongres I ini mengesahkan terbentuknya cabang-cabang Ikapi untuk wilayah Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Sebagai organisasi penerbit, Ikapi juga meluncurkan majalah di bidang perbukuan bernama Suara Penerbit Nasional yang diluncurkan pada bulan Maret 1954. Namun, majalah ini hanya bertahan enam nomor dan selanjutnya tidak terbit lagi.

Fase Awal Penerbitan di Indonesia

Sejarah penerbitan buku di Indonesia sebenarnya dapat dibagi menjadi beberapa fase sebagai berikut:

Fase Hindia Belanda adalah fase berkembangnya penerbitan awal di Indonesia yang dipelopori pemerintahan kolonial Belanda, terutama untuk menjalankan misi penyebaran agama. Mesin cetak pun didatangkan pada 1624 meski kemudian tidak berfungsi karena tidak ada tenaga ahlinya. Kegiatan penerbitan dan pencetakan baru dimulai pada 1659. Adalah Cornelis Pijl yang memprakarsai penerbitan dan pencetakan Tijtboek—meski kini tiada yang tahu apa sebenarnya konten Tijtboek itu. Belanda terus menggiatkan penerbitan dengan mencetak pengumuman, kontrak dan dokumen perjanjian dagang, buku agama Kristen, kamus, hingga buku sejarah. Pemerintah Hindia Belanda mengatur semua izin dan prosedur penerbitan maupun pencetakan berbagai dokumen dan buku-buku sampai akhir abad ke-18.

Fase Cina Peranakan yang berkembang disebabkan meluasnya pemakaian bahasa Melayu di kalangan masyarakat Indonesia. Fase ini ditandai berkembangnya juga penerbitan surat kabar berbahasa Melayu, di samping surat kabar berbahasa Jawa kala itu. Surat kabar sebagai media informasi juga digunakan sebagai media iklan bagi para pedagang yang kebanyakan adalah kaum perantau dari Cina. Mereka pun akhirnya merasa berkepentingan dengan penguasaan bahasa, terutama bahasa Melayu dan bahasa Belanda. Akhirnya, anak-anak mereka pun disekolahkan untuk dapat menguasai bahasa Melayu plus bahasa Belanda. Generasi peranakan Cina inilah yang kemudian memelopori penerbitan buku-buku selanjutnya dengan mengalihbahasakan kisah-kisah dari negeri mereka ke dalam bahasa Melayu. Tercatat pada dasawarsa 1880-an, sedikitnya ada 40 karya terjemahan dari cerita-cerita asli Cina. Pada 1903–1928, bahkan penerbitan peranakan Cina ini mampu menghasilkan seratusan novel asli karya 12 pengarang peranakan Cina—jauh dibandingkan Balai Poestaka yang pada 1928 hanya menerbitkan 20-an novel.

Fase Balai Poestaka adalah fase ketika pemerintahan kolonial Belanda membentuk Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakyat) berdasarkan keputusan Departement van Onderwijs en Eeredienst No. 12 pada 14 September 1908. Komisi ini bertugas memilih bacaan yang sesuai untuk rakyat Hindia Belanda, di samping memberikan saran dan pertimbangan kepada Direktur Pendidikan. Program peningkatan minat baca pun dimulai dengan penerbitan bacaan-bacaan ringan yang tentu tetap berada dalam kontrol pemerintahan Hindia Belanda. Pada tahun 1910, Komisi Bacaan Rakyat meningkatkan aktivitasnya ketika D.A. Rinkes yang menjabat sekretaris komisi diberi wewenang mengendalikan komisi. Ia merekrut ahli bahasa Jawa dan bahasa Sunda untuk mulai menerjemahkan berbagai karya asing. Dalam enam tahun, komisi ini telah menerbitkan 153 judul buku dengan penerbitan terbanyak berbahasa Jawa (95 judul) serta berbahasa Sunda (54 judul). Komisi yang sukses ini kemudian berdasarkan Keputusan No. 63 tanggal 22 September 1917 menjadi Kantoor voor de Volkslectuur. Lembaga ini kemudian diberi nama menjadi Balai Poestaka dan dipimpin lagi oleh D.A. Rinkes. Pada tahun 1921, Balai Poestaka pun sudah memiliki percetakan sendiri. Balai Poestaka kemudian dikenal sebagai ukuran gengsi intelektual karena pembacanya adalah kaum elite serta menggunakan bahasa tinggi.

Fase Penerbitan Modern

Dunia penerbitan buku Indonesia mengalami berbagai masa dan fase yang menunjukkan bagaimana perjalanan bangsa ini juga terbangun dari perjalanan intelektual lewat industri perbukuannya. Pasang surut terjadi dalam konteks industri perbukuan. Terkadang ada gerak dinamis yang memberikan secercah harapan. Namun, tidak jarang juga berbagai fenomena ikut membuat para penerbit terpuruk. Kalau didaftar, sedikit sekali penerbit-penerbit yang muncul pada era 1950-an dan 1960-an masih bertahan hingga kini, seperti Tiga Serangkai, Erlangga, Rosdakarya, Bumi Aksara, Dian Rakyat, dan tentunya penerbit tertua Balai Pustaka yang kini telah menjadi BUMN.

Tidak dimungkiri peranan pemerintah sangat berpengaruh pada pasang surut industri perbukuan di Indonesia. Kebijakan pemerintah seperti yang terjadi pada tahun 1969 hingga akhir 1970-an dengan mengadakan proyek pengadaan buku yang populer disebut Proyek Inpres sangatlah menggairahkan dunia penulisan dan penerbitan buku di Indonesia meskipun tidak dimungkiri pula terdapat ekses kurang baik, seperti munculnya penerbit musiman sehingga menghasilkan penerbitan yang tidak berkualitas.

Konsentrasi banyak penerbit ke proyek pemerintah dalam pengadaan buku ajar dan buku bacaan anak menjadikan pasar buku umum agak “lowong” pada masa itu. Pada masa-masa ini, pasar buku umum banyak diisi oleh komik-komik pewayangan dan persilatan—di antaranya yang melambungkan karya R.A. Kosasih. Selain itu, muncul pula apa yang disebut roman picisan, berupa novel-novel populer yang berisi tema percintaan maupun tema horor. Pada masa-masa tersebut publik pembaca Indonesia sangat mengenal penulis bernama Freddy S. ataupun Abdullah Harahap. Era selanjutnya, dikenal beberapa novelis laris yang melahirkan novel bertemakan percintaan, seperti Motinggo Boesje dan Marga T.

Walaupun demikian, buku-buku sastra yang lebih serius juga berkembang. Beberapa sastrawan papan atas Indonesia tetap menghasilkan karya-karya terbaik, seperti Umar Kayam, Kuntowijoyo, Ahmad Tohari, Rendra, dan N.H. Dini.

Masa-masa selanjutnya adalah masa-masa kreatif dunia perbukuan Indonesia dengan munculnya beberapa penerbit buku umum dan buku religi (Islam) yang tampil lebih modern. Pemicunya adalah peningkatan semangat keberagamaan yang muncul di perkotaan dan kampus-kampus. Penerbit yang memulai debutnya dalam buku religi dan dengan cepat berkembang, di antaranya Mizan dan Gema Insani Press pada tahun 1980-an.

Masa tersebut juga merupakan masa berseminya karya-karya tokoh pemikir Islam Indonesia modern, yaitu Amien Rais, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nurcholish Madjid, dan Jalaluddin Rakhmat. Tokoh Islam lain yang patut disebutkan dan karyanya berpengaruh adalah Emha Ainun Nadjib. Itulah fase baru yang kemudian menjadikan buku-buku Islam menyumbang omzet tinggi dalam transaksi buku secara nasional—seperti yang disampaikan beberapa toko buku.

Fenomena politik, sosial, dan budaya sangat berpengaruh pada dunia penerbitan buku selanjutnya, terutama menjelang terjadinya krisis moneter yang berujung pada reformasi tahun 1998 di Indonesia. Buku-buku politik pun mengalir deras saat itu.

Pasca-reformasi maka tren perbukuan pun memasuki babak baru dengan munculnya kembali kebangkitan sastra, terutama sastra religi yang dipelopori komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) dengan tokohnya Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Fenomena ini menunjukkan munculnya peran masyarakat menulis yang mampu membentuk komunitas-komunitas. Dunia buku Indonesia pun diramaikan dengan buku novel serta kumpulan cerpen religi, lalu digebrak lagi dengan novel, seperti Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy dan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang mengusung tema pendidikan. Kedua novel itu menjadi fenomenal karena meraih predikat best seller.

Kini industri buku di Indonesia makin menampilkan tema dan genre yang beragam hasil karya para penulis Indonesia. Beberapa buku motivasi dan pengembangan diri terus mencetak hit. Demikian pula dengan buku anak dan buku religi yang masih menempati penjualan buku tertinggi, khususnya di toko-toko buku modern.

Gairah penerbitan dan pemasaran buku juga tampak dari agenda rutin yang dilakukan Ikapi yaitu pameran buku di ibu kota negara dan juga kota-kota lain di Indonesia. Beberapa Ikapi Daerah memelopori agenda pameran buku rutin di kota-kota.

sumber: Industri Penerbitan Buku Indonesia Dalam Data dan Fakta, 2015

13 Komentar

  1. Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    Selamat kepada pengurus yang terpilih pada April lau semoga organisasi IKAPI Jawa Barat semakin maju. Saya mau bertanya kepada pengurus bagaimana menjadi anggota IKAPI: daftarnya di mana, dan iuran perbulannya berapa. Saya (dan perusahan penerbitan saya) bermaksud menjadi anggota.

  2. Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    Saya mau bertanya kepada pengurus bagaimana menjadi anggota IKAPI: daftarnya di mana, dan iuran perbulannya berapa. Saya (dan perusahan penerbitan saya) bermaksud menjadi anggota.
    Trimakasih. mohon dibalas

  3. Assalamu’alaikum !

    Punten apakah Saya bisa mendapatkan informasi (waktu dan tempat) rencana Pameran Buku IKAPI di Bandung di sisa tahun 2012 dan 2013? Kalau ada mohon di share ke alamat Email Saya.
    Hatur nuhuhn sateuacana

    Wassalam !

  4. Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    Saya mau bertanya kepada pengurus bagaimana menjadi anggota IKAPI: Persyaratannya apa saja? daftarnya di mana, dan iuran perbulannya berapa, saya lokasi di jawa barat boleh tidak menjadi anggota IKAPI di DKI, sehubungan dekat dengan DKI, perusahan saya bermaksud menjadi anggota. Terima kasih. ditunggu jawabannya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*